IndonesiaBuzz: Ekonomi & Bisnis – Masalah tingginya harga tiket pesawat domestik di Indonesia telah menjadi keluhan masyarakat selama beberapa tahun terakhir. Tiket pesawat untuk rute domestik seringkali lebih mahal dibandingkan rute internasional, meskipun jarak tempuhnya lebih pendek.
Tony Fernandes, CEO Capital A Berhad, induk usaha maskapai AirAsia, memberikan pandangannya terkait masalah ini. Ia secara terbuka menyampaikan salah satu penyebab utama tingginya harga tiket pesawat domestik adalah harga avtur yang tinggi di Indonesia.
“Harga bahan bakar di Indonesia adalah yang tertinggi di ASEAN, sekitar 28 persen lebih mahal,” ujar Tony di Jakarta, sebagaimana dikutip dari Antara, Sabtu (7/9/2024).
Tony juga menyoroti minimnya persaingan di sektor penyedia avtur di Indonesia sebagai faktor lain yang mempengaruhi. Di Malaysia, misalnya, terdapat beberapa pemasok avtur dari berbagai perusahaan, sedangkan di Indonesia, Pertamina menjadi satu-satunya pemasok. Hal ini menyebabkan maskapai penerbangan tidak memiliki banyak pilihan.

“Di Malaysia, ada dua atau tiga perusahaan penyedia. Di sebagian besar negara lain, ada lebih banyak pilihan. Namun di Indonesia, hanya ada satu pemasok, sehingga mereka (Pertamina) dapat menetapkan harga sesuka mereka,” tambah Tony.
Selain itu, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) juga memberikan analisis mengenai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap tingginya harga tiket pesawat di Indonesia. Menurut KPPU, harga avtur yang tinggi menyebabkan biaya operasional maskapai meningkat secara signifikan, dengan kontribusi avtur terhadap harga tiket mencapai 38-45 persen.
“Hal ini berdampak langsung pada harga tiket pesawat, karena berdasarkan kajian, diketahui bahwa harga tiket per kilometer di Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya, seperti Thailand dan Malaysia,” jelas Ketua KPPU M. Fanshurullah Asa pada 2 Februari 2024.
Untuk mengatasi masalah ini, KPPU mengusulkan penerapan sistem multi-provider melalui akses terbuka (open access) dan prinsip co-mingle, yang diharapkan dapat menciptakan persaingan dalam pengadaan dan distribusi avtur. Dengan adanya beberapa penyedia, diharapkan efisiensi meningkat dan harga bahan bakar penerbangan turun.
Pemerintah Indonesia juga turut berupaya mencari solusi. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menyatakan bahwa pemerintah berencana membuka peluang bagi perusahaan swasta untuk memasok avtur di bandara, dengan tujuan menciptakan harga yang lebih kompetitif. Selain itu, regulasi terkait distribusi bahan bakar avtur diusulkan untuk direvisi guna menciptakan pasar yang lebih efisien dan menurunkan biaya bagi maskapai.
Luhut menegaskan bahwa badan usaha swasta diperbolehkan untuk berinvestasi di Depot Pengisian Bahan Bakar Pesawat Udara (DPPU), terutama di wilayah Indonesia Timur.
“Kita juga membuka peluang bagi perusahaan lain untuk berinvestasi di bidang ini, terutama di daerah-daerah Indonesia Timur,” ungkap Luhut dalam konferensi pers di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, pada 8 Agustus 2024.
Diharapkan, dengan adanya keterlibatan pemasok avtur swasta, monopoli Pertamina dapat terpecahkan dan harga tiket pesawat bisa turun. Selain harga avtur, pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak impor suku cadang pesawat juga menjadi faktor yang mempengaruhi mahalnya tiket pesawat domestik di Indonesia.
Pemerintah terus berupaya menciptakan pasar yang lebih kompetitif bagi penyedia bahan bakar dan suku cadang pesawat, guna menurunkan harga tiket dan mempermudah akses masyarakat terhadap penerbangan domestik.







