IndonesiaBuzz: Historia – Di antara riuh anak-anak bermain dan denting pedagang kuliner di Alun-alun Kidul Keraton Kasunanan Surakarta, dua gerbong tua berdiri diam. Warnanya kontras—satu hijau-putih di timur, satu lagi putih pucat di barat. Tak sedikit wisatawan bertanya-tanya: peninggalan siapa gerbong itu, dan mengapa mereka dipajang di sana?
Keduanya bukan besi tua sembarangan. Gerbong-gerbong itu milik Pakubuwono X, raja dengan masa kekuasaan terlama dalam sejarah Kasunanan Surakarta. Satu gerbong dipakai untuk berpelesir. Yang satu lagi, mengantar raja menuju peristirahatan abadi.
“Ini bukan sekadar benda mati. Keduanya adalah saksi bisu dari narasi besar sejarah Kasunanan,” ujar KP. Andri, Sentono Dalem Keraton Surakarta Hadiningrat, saat ditemui di kompleks keraton.
Kereta Pesiar: Dari Jebres Menuju Pabrik Gula

Gerbong berwarna hijau-putih di sisi timur dahulu merupakan bagian dari kereta pesiar pribadi Pakubuwono X. Digunakan untuk meninjau pabrik-pabrik gula, perjalanan dimulai dari Stasiun Solo Jebres pusat transportasi modern saat itu.
“Pakubuwono X sangat visioner. Ia paham bahwa transportasi modern dapat menjadi simbol kemajuan kerajaan,” Jelas KP. Andri, Sentono Dalem Keraton Surakarta Hadiningrat.
Kereta Jenazah: Dari Solo Menuju Imogiri

Di sisi barat alun-alun, berdiri kereta jenazah kerajaan. Warnanya putih, kacanya besar, dan tirainya tertutup rapat. Inilah gerbong yang hanya sekali dipakai—mengantar jenazah Pakubuwono X dari Stasiun Solo Balapan menuju Stasiun Tugu Yogyakarta, tahun 1939. Dari sana, jenazah dibawa dengan kereta kuda ke Makam Raja Imogiri.
Meski hanya sekali dipakai, kereta ini dirancang dengan teliti jauh hari. “Pakubuwono X memesannya sendiri sejak 1909, dan selesai dibuat 1914. Tapi baru sampai di Hindia Belanda pada 1915,” ujar KP. Andri, Sentono Dalem Keraton Surakarta Hadiningrat. Menurutnya, pemesanan dilakukan ke Werkspoor, dan dibawa oleh perusahaan kereta api NIS yang kala itu bermarkas di Lawang Sewu, Semarang.
Kereta ini disimpan lama di Balai Yasa Yogyakarta, sebelum akhirnya dipulangkan ke Surakarta pada akhir 1980-an.
“Peletakan kereta jenazah di sisi barat juga bukan tanpa makna,” lanjut KP. Andri. Barat adalah arah matahari terbenam. “Itu melambangkan akhir kehidupan. Simbolik sekali dengan fungsi kereta ini.”
Kini, kedua kereta itu dipajang terbuka, tanpa pagar atau biaya masuk. Siapa saja boleh mendekat, mengamati, dan bertanya. Namun sayangnya, tak banyak yang tahu bahwa di balik tubuh besi itu, tersimpan bab penting dalam sejarah transportasi kerajaan Jawa.
“Gerbong ini bagian dari pusaka. Ia tidak hanya menyimpan kenangan raja, tapi juga menyimpan cara keraton menyikapi zaman modern,” kata KP. Andri menutup.







