IndonesiaBuzz: Humaniora – Kabut pagi menggantung di lereng Kintamani, Bali. Di ketinggian lebih dari 1.200 meter di atas permukaan laut, aroma tanah basah dan bunga jeruk berpadu dengan hijaunya pohon kopi arabika. Dari sinilah perjalanan secangkir kopi yang dinikmati jutaan orang di kota besar dimulai.
Bagi Niluh Ramiati (33), pagi bukan waktu menikmati kopi, melainkan bekerja dengan biji-biji kopi itu. Sejak matahari muncul di balik Gunung Batur, ia duduk di depan tampah bambu, memilah biji kopi satu per satu. Niluh adalah satu dari puluhan perempuan penyortir di bawah binaan Karana Global, mitra lokal Kopi Kenangan di Bali.
Perempuan asal Bangli ini menjadi bagian dari cerita di balik setiap tegukan kopi. Pekerjaannya bukan sekadar mencari nafkah, tapi juga menjaga tradisi. “Per kilo dibayar dua ribu rupiah. Biasanya bisa sampai lima puluh kilo sehari,” ujarnya sambil tersenyum.
Selama dua tahun bekerja, Niluh tak khawatir dengan kehadiran mesin pemilah baru. Menurutnya, teknologi justru membantu. “Lebih cepat dan bersih, tidak ada rasa takut digantikan,” katanya. Kini, hasil sortirnya meningkat dua kali lipat dari sebelumnya.
Cerita Niluh adalah bagian kecil dari program Sip for Sustainability, inisiatif tanggung jawab sosial dari Kopi Kenangan yang diluncurkan bertepatan dengan Hari Kopi Sedunia 2025 di Bali. Program ini melibatkan Universitas Udayana dan Karana Global untuk memperkuat rantai pasok kopi dari hulu hingga hilir.
“Kalau kita mau kopi yang baik, petaninya juga harus sejahtera,” kata Senior Vice President Legal and Corporate Affairs Kenangan Brands, Inneke Lestari.
Program ini memiliki tiga pilar utama. Pertama, Kenangan Berdaya, yang menyalurkan 20 mesin potong rumput dan mesin Suton—alat pemilah biji kopi buatan tangan dari Lampung—kepada petani binaan di Kintamani. Kedua, Kenangan PinTer (Pintar dan Terampil), yang melatih 15 anak muda dari keluarga petani agar memahami agrikultur berkelanjutan dan inovasi produk.
Program pelatihan ini muncul setelah temuan residu kimia berlebih pada ekspor kopi arabika Kintamani ke Jepang akhir 2024. Kolaborasi dengan akademisi diharapkan mampu meningkatkan kualitas sekaligus menjaga daya saing kopi Bali di pasar global.
Selain itu, Kopi Kenangan juga menjalankan Kenangan Sirkular. Inisiatif ini mengubah limbah plastik dari gerai menjadi produk baru seperti tas belanja, gantungan kunci, dan kotak tisu. Bahkan, ampas kopi diolah menjadi pupuk kompos yang dibagikan gratis kepada pelanggan.
Tak berhenti di situ, 100 petani binaan ditargetkan mendapat sertifikasi Rainforest Alliance (RA), yang menjamin praktik pertanian beretika tanpa pekerja anak dan dengan pengelolaan lingkungan berkelanjutan. Saat ini, sudah ada 30 petani aktif di lahan 30,8 hektare sebagai proyek percontohan.
“Biji kopi yang baik itu harus jujur. Kalau beratnya tepat dan warnanya sempurna, baru bisa jadi kebanggaan,” kata Direktur Utama Karana Global, I Kadek Edi.
Di tengah semua upaya itu, tantangan klasik tetap ada: disiplin petani untuk memanen hanya buah merah matang atau petik merah. Meski butuh waktu lebih lama, hasilnya jauh lebih baik. Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Putu Sudiarta, menyebut petani kopi arabika di Bali tersebar di tiga wilayah: Bangli, Badung, dan Buleleng.
Bangli menjadi fokus utama dengan luas area 5.900 hektare dan produksi mencapai 3.000 ton per tahun. Melalui pelatihan dan pendampingan, para petani terus diyakinkan bahwa kesabaran memetik merah membawa hasil dan kepercayaan lebih tinggi di pasar global.
Dari kebun di Kintamani hingga meja pelanggan di kota, secangkir kopi kini tak sekadar minuman. Ia membawa cerita tentang kerja keras, keberlanjutan, dan harapan baru di setiap tetesnya. @jjpamungkas







