IndonesiaBuzz: Trenggalek, 25 September 2025 – Di Dukuh Jampi, Desa Ngentrong, Kecamatan karangan, sebuah usaha batik tulis terus eksis meski tren modern terus berganti. Usaha ini digeluti Tiepoek (52), yang memulai semuanya dari hobi menggambar.
“Dari hobi itulah saya menuangkan ide-ide gambar ke kain. Setiap motif batik tulis saya adalah hasil karya sendiri,” ujar Tiepoek saat ditemui IndonesiaBuzz ditempat usahanya, Kamis (25/9/25).
Sejak merintis usaha pada 2010, Batik Tulis Ngentrong kini mempekerjakan 13 karyawan dari warga sekitar. Pemasaran dilakukan lewat media sosial Instagram dan berbagai pameran, baik di Trenggalek maupun kota-kota besar seperti Malang, Surabaya, Solo, dan Yogyakarta. Tak hanya itu, Tiepoek juga menjadi suplier salah satu gerai batik di Sarinah, Jakarta.

Proses produksi batik tulis yang masih tradisional
Usahanya mendapat dukungan dari Pemkab Trenggalek. Ia bahkan mendapat kesempatan belajar teknik pewarnaan alami di Balai Besar Yogyakarta dan pewarnaan sintetis di Madura.
“Dengan usaha ini, saya berharap bisa membantu perekonomian warga sekitar sekaligus melestarikan budaya membatik agar tidak punah,” tuturnya.
Batik tulis yang dibuat menggunakan kain katun dan rayon dijual dengan harga mulai Rp 175 ribu hingga Rp 500 ribu per lembar, tergantung teknik pewarnaan dan jenis kain. Untuk pesanan khusus berbahan sutra, harganya bisa mencapai lebih dari Rp 2 juta per lembar.
Kreativitas dan ketekunan wanita Paruh baya ini membuktikan bahwa batik tulis tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat, sekaligus menjadi sumber penghasilan dan warisan budaya yang berharga bagi Trenggalek.(Ika Firgiyanti/Koresponden Trenggalek)







