IndonesiaBuzz: Celoteh – Bicara soal keikhlasan, siapa sih yang nggak mau hidup dengan penuh ketenangan? Semua orang pasti setuju kalau hidup ini lebih enak kalau kita bisa menerima apa adanya, kan?
Tapi, tunggu dulu… yang dimaksud dengan “menerima apa adanya” itu apakah berarti kita pasrah aja sama segala hal yang terjadi dalam hidup tanpa usaha? Apa cuma sekadar bilang, “Yasudahlah, yang penting ikhlas,” sambil menunggu mukjizat datang?
Wah, jangan-jangan kamu juga salah paham soal Nrimo ing Pandum nih!
Nrimo ing Pandum: Ikhlas Versi Jawa yang Terlalu Puitis?
Kata Nrimo ing Pandum ini memang terdengar sakral banget. Dalam bahasa Jawa, artinya sih kurang lebih “menerima dengan lapang dada” terhadap apapun yang diberikan kehidupan.
Tapi, yuk kita bahas dulu deh… apakah Nrimo ing Pandum ini berarti kita harus jadi orang Jawa yang ikhlas, atau kita harus belajar ikhlas dulu baru bisa jadi orang Jawa?
Menurut Kanjeng Pangeran (KP) Hari Andri Winarso Wartonagoro—seorang pemerhati sejarah dan budaya yang udah pasti lebih ngerti soal ini daripada kita yang cuma nyari wifi gratis.
Nrimo ing Pandum itu bukan berarti hidup cuma berjalan tanpa usaha. Ini bukan berarti kamu nggak perlu berjuang dan cuma duduk manis sambil ngarep segala sesuatunya datang dengan sendirinya. No, no, no! Justru Nrimo ing Pandum itu lahir setelah kamu berusaha keras dengan hati yang penuh harapan, dan setelah itu, kamu harus siap menerima hasilnya, apapun itu.
Jadi, bukan sekadar pasrah tanpa usaha, ya!
Jadi, Harus Belajar Apa Dulu? Ikhlas atau Jawa?
Sekarang, mari kita pikirkan bersama-sama. Kamu mau jadi orang Jawa yang ikhlas atau belajar ikhlas dulu supaya bisa jadi orang Jawa? Rasanya sih, jawabannya agak rumit, kan? Jadi orang Jawa itu butuh perjuangan (bukan cuma belajar bahasa Jawanya aja, lho!).
Orang Jawa terkenal dengan prinsip hidupnya yang santai tapi penuh makna. Gimana nggak santai, coba, orang Jawa itu punya pepatah alon-alon asal kelakon, yang artinya, pelan-pelan aja yang penting sampai tujuan. Jadi, kalau kamu mau jadi orang Jawa yang ikhlas, ya kamu harus bisa menerima segala hal dengan sabar dan nggak terburu-buru.
Tapi, jangan salah! Bukan berarti kamu harus menunggu hidup datang dengan sendirinya, lho! Kalau kamu cuma duduk manis sambil mikir, “Yang penting ikhlas, nanti juga ada jalan,” ya siap-siap aja deh ditinggal teman-teman yang udah sukses duluan.
Keikhlasan itu nggak datang dengan sendirinya kalau kamu cuma menunggu tanpa berusaha!
Keikhlasan atau Pasrah? Yang Mana yang Lebih Enak?
Salah satu hal yang sering bikin bingung adalah bedanya Nrimo ing Pandum dengan pasrah. Nah, kalau kamu pikir Nrimo ing Pandum itu artinya pasrah tanpa usaha, maaf ya, kamu salah besar!
Pasrah itu artinya kamu menyerah dengan kondisi yang ada tanpa berusaha untuk merubahnya. Sementara Nrimo ing Pandum itu justru hadir setelah kamu berusaha semaksimal mungkin.
Jadi, kalau kamu udah berusaha keras, dan hasilnya nggak sesuai ekspektasi, ya itu waktu yang tepat untuk menerimanya dengan ikhlas. Bukan berarti pasrah, tapi lebih ke “Yasudahlah, semoga ada hikmahnya.”
Kenapa Jadi Orang Jawa Itu Harus Ikhlas?
Coba pikirin deh, hidup tanpa ikhlas itu berat banget, kan? Kamu bisa capek terus-terusan mikirin kenapa hidupmu nggak sesuai rencana, kenapa orang lain lebih sukses, kenapa kopi kamu selalu kehabisan sebelum waktu kerja selesai (eh, ini curhat ya).
Nah, orang Jawa punya cara berbeda untuk menghadapi itu semua: mereka lebih memilih untuk sabar, menerima kenyataan, dan terus melangkah maju tanpa beban.
Jadi, kalau kamu merasa hidupmu penuh tekanan dan nggak ada jalan keluar, mungkin sudah saatnya kamu coba cara orang Jawa: berusaha, lalu ikhlas.
Jangan buru-buru merasa gagal hanya karena hasilnya nggak sesuai ekspektasi. Coba deh berusaha dengan hati yang lapang dan Nrimo ing Pandum sebagai pondasi.
Belajar Jadi Orang Jawa yang Ikhlas atau Belajar Ikhlas Jadi Orang Jawa?
Jadi, mana yang lebih penting? Belajar jadi orang Jawa yang ikhlas atau belajar ikhlas dulu baru jadi orang Jawa?
Sebenarnya sih, dua-duanya penting! Kamu nggak bisa jadi orang Jawa yang ikhlas tanpa belajar menerima hidup dengan sabar. Tapi kamu juga nggak bisa belajar ikhlas kalau nggak berusaha dulu.
Kalau kata KP. Hari Andri Winarso Wartonagoro, ikhlas itu bukan soal pasrah atau menunggu mukjizat, tapi soal bagaimana kita tetap sabar dan bersyukur, apa pun hasilnya.
Jadi, ya, hidup ini bukan tentang apa yang kita dapat, tapi bagaimana kita menjalani setiap prosesnya. Jangan terlalu keras pada diri sendiri, coba lebih santai seperti orang Jawa—dengan usaha, ikhlas, dan tentunya tetap berharap yang terbaik! @wara-e





