IndonesiaBuzz: Moskwa , 1 Oktober 2025 – Myanmar memperkuat rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertamanya dengan dukungan Rusia, sebagai bagian dari upaya modernisasi ekonomi yang terdampak konflik sipil dan bencana alam.
Ketua Dewan Administrasi Negara Myanmar, Min Aung Hlaing, menegaskan, pembangunan PLTN bertujuan untuk menyediakan energi bagi sektor-sektor strategis, termasuk energi, kesehatan, pertanian, peternakan, industri, dan konservasi lingkungan. Pernyataan itu disampaikan dalam lokakarya bertajuk “Pemuda dan Masa Depan Myanmar – Sains dan Teknologi” di Moskwa, Kamis (25/9/25).
“Myanmar harus mengembangkan PLTN dan memanfaatkan energi nuklir secara damai. Diperlukan sumber daya manusia yang terampil untuk membangun PLTN dan memanfaatkan teknologi radiologi secara efisien,” ujar Min Aung Hlaing, dikutip media pemerintah The Global New Light of Myanmar.
Pada Maret lalu, Myanmar menandatangani perjanjian dengan perusahaan energi nuklir Rusia, Rosatom, untuk membangun PLTN modular kecil (SMR) dengan kapasitas awal 110 megawatt, yang dapat diperluas hingga 330 megawatt. Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut proyek ini sebagai terobosan penting bagi perekonomian Myanmar, dengan potensi menciptakan ribuan lapangan kerja dan mengembangkan tenaga kerja terampil.
Pembangunan PLTN muncul di tengah krisis listrik yang semakin parah. Menurut Bank Dunia, pasokan listrik di Myanmar berada dalam “situasi kritis” akibat keterbatasan infrastruktur, permintaan yang melampaui ketersediaan, serta masalah struktural yang diperparah ketidakstabilan politik dan konflik internal.
Kementerian Tenaga Listrik Myanmar mencatat, produksi listrik harian nasional tahun lalu sempat melebihi 2.000 megawatt, namun sejak awal 2025 turun di bawah angka itu, sementara kebutuhan rata-rata mencapai 4.400 megawatt per hari. Akibatnya, lebih dari 50 juta penduduk, termasuk di kota besar seperti Yangon dan Mandalay, kerap mengalami pemadaman listrik.
Selama ini, Myanmar mengandalkan campuran energi dari tenaga air, surya, angin, batu bara, dan gas. Namun, keterbatasan infrastruktur yang kerap rusak akibat bencana maupun konflik membuat pasokan energi nasional tidak stabil.







