IndonesiaBuzz: Yogyakarta, 29 November 2025 – Empat dinasti penerus Mataram Islam kembali berkumpul dalam ajang budaya Catur Sagatra 2025 yang digelar di Bangsal Kepatihan, Kompleks Kantor Gubernur DIY, Jumat (28/11/2025).
Empat unsur kebudayaan itu Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Pura Mangkunegaran, dan Pura Pakualaman tampil dalam satu panggung untuk mempererat silaturahmi sekaligus menjaga warisan budaya adiluhung para leluhur Mataram Islam.
Gelaran tahun ini mengusung tema “Kalyana: Olah Pikir, Olah Raga, Olah Jiwa”, yang menekankan pentingnya keseimbangan antara nalar, keteguhan raga, dan kejernihan batin. Tema tersebut membingkai seluruh sajian budaya yang ditampilkan masing-masing dinasti dan merefleksikan falsafah hidup masyarakat Jawa sejak masa lampau.
Dari sejumlah penampilan, Kasunanan Surakarta mencuri perhatian lewat Beksan Wiryanaranata, tari klasik yang mengangkat perjalanan spiritual dan kepemimpinan SISKS Pakoe Boewono VI. Gerakannya yang lembut, halus, namun tetap tegas menghadirkan nuansa historis yang kuat dan sarat makna.
Pangarsa Beksan Karaton Surakarta, K.R.T. Tri Harjanto Budayadipura, mengatakan keberlangsungan Catur Sagotra menjadi bukti nyata bahwa budaya Jawa peninggalan Mataram Islam masih terjaga. “Catur Sagatra ini penanda bahwa pelestarian budaya Jawa masih berlangsung. Beksan seperti Wiryanaranata mengingatkan kita bahwa nilai luhur itu harus terus dijaga,” ujarnya.
Beksan Wiryanaranata ditarikan oleh sembilan penari inti, terdiri dari empat penari putra dan lima penari putri. Empat penari putra melambangkan Catur Murti, yaitu unsur Tanah, Air, Api, dan Angin, yang menggambarkan stabilitas, kelembutan, energi, serta transformasi. Simbol itu selaras dengan tema “Kalyana”.
Pemimpin rombongan Kasunanan Surakarta dalam acara ini, KPH Adipati Panembahan Sosronegoro, menilai Catur Sagotra memiliki peran penting dalam menjaga eksistensi budaya Mataram di tengah perubahan zaman.
“Catur Sagatra bukan sekadar pertemuan empat dinasti. Ini wahana menjaga jati diri dan nilai leluhur. Selama tradisi ini berjalan, budaya Mataram akan tetap hidup,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan generasi muda dalam seni tradisi. “Penari-penari muda mampu menjiwai Wiryanaranata. Ini bukti warisan leluhur diteruskan oleh generasi yang tepat,” tambahnya.
Tokoh perempuan adat Kasunanan Surakarta, GKR Panembahan Timoer, berharap Catur Sagotra dapat terus berlangsung. “Ini tonggak penting yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan,” ungkapnya.
Salah satu penari, Nyimas Yohana Rosinta Christmas, mengaku bangga bisa tampil dalam forum budaya lintas dinasti tersebut. “Senang bisa menari Wiryanaranata di Catur Sagatra. Ini pengalaman berharga dan sebuah kehormatan,” ucapnya.
Catur Sagotra 2025 menjadi pengingat bahwa warisan budaya Mataram Islam bukan sekadar sejarah, tetapi kekayaan yang hidup, berkembang, dan harus dijaga. Ajang ini menghubungkan kekuatan sejarah, keindahan seni, dan nilai spiritual dalam satu ruang budaya yang utuh. @eko-m







