InonesiaBuzz: Pasuruan, 2 oktober 2025 – Dari rumah sederhana di Dusun Pajaran, Desa Gunting, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, lahir karya batik tulis berkelas dunia. Ferry Sugeng Santoso, pendiri Alam Batik, yang sejak 2005 konsisten menggunakan pewarna alami dalam setiap kreasinya.
Awalnya, usahanya sempat dicibir karena batik berbahan pewarna alam dianggap tidak menarik dan berbau. Namun Ferry tak menyerah. Pada 2007, ia menggandeng ahli pertanian untuk mengolah ekstrak tanaman hingga menghasilkan warna yang stabil dan memikat. Kini, pewarna alami dari kulit kayu mahoni (merah), kayu tegeran (kuning), indigo strubilantes (biru), hingga bixaorelana (jingga) menjadi ciri khas karyanya.
“Kami budidaya sendiri bahan pewarnanya, termasuk indigo strubilantes yang satu-satunya di Jawa Timur,” tegas Ferry, Kamis (2/10/25).

Dibantu lima rekannya, Ferry menghasilkan batik tulis limited edition dengan motif khas bernuansa alam, mulai dari ikan sengkaring, bunga sedap malam, Krisan, daun sri rejeki, hingga anggrek. Hampir tak ada motif yang sama di setiap lembar.
Tak hanya memproduksi, Alam Batik juga membuka edukasi membatik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Mulai dari mengenal kain, mencanting, hingga pewarnaan alami, semua dipelajari di rumah batik ini. Tahun 2025 saja, sudah ada mahasiswa dan seniman dari Belanda, Finlandia, Italia, Kanada, Prancis, Jepang, hingga Korea Selatan yang belajar langsung.
Karya Ferry pun telah menorehkan prestasi. Batiknya meraih Juara I Batik Nasional 2018 dan ikut pameran di Belanda, Italia, serta Korea Selatan. Dari sisi bisnis, harga batik tulisnya dibanderol mulai Rp250 ribu hingga Rp350 juta per lembar.
“Untuk pemberdayaan masyarakat, saya lebih tertarik menggandeng anak-anak muda. Berkarya untuk dunia berbekal kecerdasan lokal dan warisan budaya,” pungkas Ferry. (red)







