IndonesiaBuzz: Pacitan, 8 Februari 2026 – Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute (TYI) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menawarkan peta jalan Ekonomi Baru (the New Economy) sebagai arah masa depan perekonomian Indonesia, sejalan dengan semangat transformasi nasional yang digariskan Presiden Prabowo Subianto.
Gagasan tersebut disampaikan AHY dalam Yudhoyono Dialogue Forum bertajuk “The New Economy, New Road to Prosperity” yang digelar di Museum dan Galeri SBY-ANI, Pacitan, Jawa Timur, Jumat (6/2/26). Dalam forum tersebut, AHY yang juga menjabat Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh berhenti pada capaian statistik semata.
“Indonesia harus maju, bukan sekadar tumbuh. Pertumbuhan harus bertransformasi menjadi kemakmuran yang adil dan bisa dirasakan langsung di kantong serta meja makan rakyat,” ujar AHY dalam keterangan tertulis yang diterima Minggu (8/2/26).
AHY menilai, generasi muda Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar berupa disrupsi teknologi dan ketatnya persaingan global. Karena itu, ia memaparkan lima pilar utama Ekonomi Baru yang dinilainya konkret dan relevan untuk menjawab tantangan tersebut.
Pilar pertama adalah pembangunan infrastruktur dasar yang berkeadilan, bukan hanya dalam bentuk fisik seperti jalan dan pelabuhan, tetapi sebagai sarana pemerataan sosial melalui penurunan biaya logistik agar harga kebutuhan pokok lebih merata hingga ke pelosok. Pilar kedua, penyediaan perumahan layak dan terjangkau sebagai fondasi martabat manusia, peningkatan produktivitas, sekaligus penciptaan lapangan kerja.
Pilar ketiga menitikberatkan pada penguatan konektivitas fisik dan digital guna memperkokoh persatuan nasional serta memastikan pelaku UMKM dan masyarakat di daerah memiliki akses transportasi dan internet yang setara. Pilar keempat adalah investasi pada kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan kesehatan sebagai modal utama daya saing global.
Adapun pilar kelima, menurut AHY, adalah akselerasi teknologi dan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan publik agar lebih cepat dan transparan, dengan tetap berlandaskan etika, regulasi yang adaptif, serta penguatan talenta digital nasional.
AHY juga mengingatkan bahwa tantangan ke depan, mulai dari krisis iklim hingga dinamika geopolitik global, membutuhkan kebijakan yang presisi dan berbasis solusi, bukan sekadar jargon pembangunan.
“Kemakmuran adalah pengalaman hidup yang lebih baik bagi nelayan, buruh, hingga content creator muda,” tambahnya.
Forum dialog tersebut turut menghadirkan sejumlah tokoh nasional dari berbagai latar belakang, antara lain pengusaha Chairul Tanjung dan Otto Toto Sugiri, akademisi Prof. Hermanto selaku Rektor Perbanas Institute, peneliti CSIS Dr. Yose Rizal, mantan Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. Moh. Nuh, serta anggota Dewan TIK Nasional Dr. Ilham Habibie.
Acara ditutup dengan arahan Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang menekankan pentingnya kesinambungan gagasan dan kepemimpinan dalam membangun fondasi ekonomi Indonesia yang tangguh dan inklusif di tengah perubahan global. @yudi







