IndonesiaBuzz: Ngawi, 12 Juni 2026 – Peristiwa kebakaran tragis yang merenggut nyawa seorang lanjut usia terjadi di Desa Paron, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Kamis malam (11/6/26). Seorang pria bernama Suryono (80) ditemukan meninggal dunia di dalam rumahnya setelah bangunan yang ditempatinya dilalap api.
Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di atas tempat tidur saat petugas berhasil mengendalikan kobaran api yang sebelumnya menghanguskan sebagian besar rumah tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lokasi kejadian, kebakaran bermula ketika rumah korban yang sebagian besar berbahan papan kayu tiba-tiba terbakar. Material bangunan yang mudah terbakar serta banyaknya barang di dalam rumah membuat api dengan cepat membesar dan menghanguskan sebagian besar bangunan.
Warga yang mengetahui kejadian itu segera berupaya memberikan pertolongan dengan melakukan pemadaman menggunakan peralatan seadanya. Namun, besarnya kobaran api membuat upaya tersebut tidak mampu mengendalikan laju penyebaran api.
Situasi semakin mengkhawatirkan karena rumah korban berada di kawasan permukiman warga sehingga berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas apabila tidak segera ditangani.
Menerima laporan dari masyarakat, satu unit mobil pemadam kebakaran milik Pemerintah Kabupaten Ngawi langsung diterjunkan ke lokasi. Petugas pemadam bersama warga berjibaku memadamkan api dan melakukan upaya penyekatan agar kobaran tidak merembet ke bangunan lain di sekitar lokasi kejadian.
Setelah proses pemadaman berlangsung, petugas menemukan korban di dalam rumah dalam kondisi meninggal dunia. Korban diketahui sebelumnya sedang mengalami sakit dan diduga tidak memiliki cukup waktu maupun kemampuan untuk menyelamatkan diri ketika api mulai membesar.
Tubuh korban ditemukan dalam kondisi mengalami luka bakar akibat terjebak di dalam rumah yang terbakar.
Kepala Seksi Keselamatan Pemadam Kebakaran Kabupaten Ngawi, Rochmat Angga, membenarkan adanya korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
“Iya betul, kejadian kebakaran rumah tadi ada korban jiwa. Korban pemilik rumah ditemukan petugas sudah dalam kondisi tewas di tempat tidur. Setelah dilakukan pemeriksaan petugas, diduga penyebab kebakaran dari obat nyamuk bakar yang menyulut barang mudah terbakar,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal yang dilakukan petugas, sumber api diduga berasal dari penggunaan obat nyamuk bakar yang mengenai atau menyulut material mudah terbakar di dalam rumah.
Meski masih memerlukan pendalaman lebih lanjut, dugaan tersebut mengarah pada faktor kelalaian penggunaan sumber api terbuka di dalam ruangan yang dipenuhi bahan mudah terbakar.
Kondisi rumah yang didominasi material kayu diduga mempercepat proses penyebaran api sehingga korban tidak memiliki cukup waktu untuk menyelamatkan diri.
Selain menimbulkan korban jiwa, kebakaran tersebut juga mengakibatkan kerusakan parah pada bangunan rumah dan berbagai barang milik korban.
Petugas memperkirakan nilai kerugian material akibat kejadian tersebut mencapai sekitar Rp80 juta.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat penting mengenai risiko kebakaran rumah tangga yang masih sering terjadi akibat penggunaan sumber api sederhana seperti lilin, kompor, maupun obat nyamuk bakar.
Pada kelompok lansia yang tinggal sendiri atau memiliki keterbatasan mobilitas, risiko menjadi lebih besar karena kemampuan untuk merespons keadaan darurat cenderung lebih lambat dibandingkan anggota keluarga lainnya.
Petugas mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan benda yang berpotensi memicu kebakaran, terutama saat malam hari atau ketika penghuni rumah sedang beristirahat.
Selain memastikan sumber api telah padam sebelum tidur, masyarakat juga dianjurkan menempatkan bahan mudah terbakar pada lokasi yang aman serta memperhatikan kondisi anggota keluarga yang memiliki keterbatasan fisik agar dapat memperoleh perlindungan lebih baik saat terjadi keadaan darurat.
Tragedi yang menimpa Suryono menjadi duka mendalam bagi warga Desa Paron sekaligus menjadi peringatan bahwa kebakaran rumah dapat terjadi dari sumber yang tampak sederhana. Kewaspadaan dan budaya keselamatan di lingkungan rumah tangga menjadi kunci utama untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang. (Esaputra /Koresponden Ngawi).







