IndonesiaBuzz: Solo, 4 Juni 2026 – Karaton Surakarta Hadiningrat mulai mematangkan persiapan pelaksanaan Kirab Pusaka 1 Suro untuk menyambut Tahun Baru Jawa 1 Suro 1960 BE. Tradisi sakral yang menjadi agenda tahunan Karaton tersebut akan digelar pada Selasa malam, 16 Juni 2026, tepat pukul 00.00 WIB.
Persiapan kirab dibahas dalam rapat yang digelar di Plataran Sasono Hadi Karaton Surakarta Hadiningrat, Kamis (4/6/2026). Rapat berlangsung atas dhawuh SISKS Pakoe Boewono XIV dan dipimpin langsung oleh Pengageng Parentah Karaton KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo bersama Pengageng Sasana Wilapa GKR Panembahan Timoer Rumbai Kusumadewayani.
Sejumlah keluarga Karaton turut hadir dalam rapat tersebut, di antaranya GKR Ageng, GKR Alit, dan GKR Sekar Kirono. Selain itu, sejumlah instansi dari Pemerintah Kota Surakarta juga dilibatkan, mulai dari PMI, Dinas Perhubungan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Polresta Surakarta hingga Polsek Pasar Kliwon. Puluhan Abdi Dalem yang mewakili ratusan peserta kirab juga mengikuti rapat persiapan tersebut.
Dalam rapat diputuskan, Kirab Pusaka 1 Suro akan melibatkan sekitar 5.000 peserta. Mereka akan berjalan kaki menempuh rute sejauh kurang lebih 7 kilometer yang dimulai dari kawasan Karaton Surakarta Hadiningrat.
Rute kirab akan melewati Kamandungan, Jalan Supit Urang, Simpang Bank Indonesia, Jalan Mayor Kusmanto, Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, Jalan Yos Sudarso, Jalan Slamet Riyadi, sebelum kembali masuk ke kompleks Karaton.
KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo mengatakan Bulan Suro bukan sekadar pergantian tahun dalam penanggalan Jawa, melainkan momentum untuk melakukan refleksi diri sekaligus memahami nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.
“Kami mengajak masyarakat memahami diri sendiri, mengenali budaya asli Jawa, serta menafsirkan makna-makna simbolis yang diwariskan Karaton Kasunanan Surakarta. Simbol seperti Kyai Slamet maupun pusaka-pusaka yang dikirabkan mengandung harapan, filosofi, dan nilai-nilai adiluhung yang dapat menjadi pedoman dalam kehidupan,” ujarnya.
Menurutnya, rangkaian Malam 1 Suro juga menjadi sarana pendidikan budaya bagi masyarakat. Berbagai kegiatan spiritual dan tradisi akan digelar sebagai bagian dari prosesi tersebut.
“Melalui doa bersama, kirab, salat hajat, meditasi, hingga salat subuh, kami mengajak masyarakat memahami dirinya sendiri serta mempersiapkan nilai-nilai yang akan dijalankan dalam kehidupan mendatang,” katanya.
Sementara itu, GKR Panembahan Timoer Rumbai Kusumadewayani memastikan tidak ada perubahan signifikan dalam pelaksanaan Kirab Pusaka 1 Suro tahun ini, termasuk terkait rute perjalanan yang digunakan.
“Ya kalau malam 1 Suro-nya sendiri karena itu sudah berjalan bertahun-tahun mestinya seperti biasa tidak ada perubahan yang signifikan. Kemudian rutenya tidak berubah seperti tahun-tahun yang lalu,” ujarnya.
GKR Timoer juga mengungkapkan bahwa lima ekor kerbau bule akan menjadi cucuk lampah atau pembuka jalan dalam kirab pusaka tahun ini.
“Mahesanya ada lima kalau nggak salah, karena yang disiapkan itu. Kalau yang lainnya biasanya karena sekarang lebih banyak di kandang terus mungkin akan lebih sulit untuk mengatasi ketika diajak kirab,” katanya.
Adapun mengenai jumlah dan jenis pusaka yang akan dikirabkan, pihak Karaton masih menunggu dhawuh dari SISKS Pakoe Boewono XIV. Menurutnya, keputusan terkait pusaka yang akan dikeluarkan selalu menjadi kewenangan Sinuhun sebagaimana tradisi yang telah berlangsung selama ini.
“Pusakanya belum ada dhawuh. Biasanya itu dhawuh dari Sinuhun akan mengeluarkan berapa, seperti halnya tahun-tahun dulu, bahkan PB XII pun juga seperti itu,” tuturnya.
Ia menambahkan, penentuan jumlah maupun jenis pusaka yang akan dibawa dalam kirab nantinya akan disesuaikan dengan petunjuk atau wisik yang diperoleh PB XIV menjelang pelaksanaan tradisi Malam 1 Suro. @eko-m







