IndonesiaBuzz: Ponorogo, 3 Oktober 2025 – Tahun 2025 menjadi momentum istimewa bagi para petani kopi di Bumi Reog. Tingginya curah hujan yang mengguyur wilayah Ponorogo terbukti membawa berkah, dengan lonjakan produktivitas kopi hingga 20 persen dibanding tahun sebelumnya.
Menurut data Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (Dipertahankan) Kabupaten Ponorogo, produksi kopi tahun ini mencapai 69,04 ton, naik signifikan dibanding 2024 yang hanya sekitar 55,23 ton.
“Curah hujan yang tinggi sangat menguntungkan bagi tanaman kopi. Karena itu, kami menyebut 2025 ini sebagai tahun kopi,” kata Lukito Hari, Pengawas Mutu Hasil Perkebunan Dipertahankan, Jumat (3/10/25).
Namun, peningkatan produktivitas ini juga memunculkan tantangan baru. Salah satunya keterbatasan lahan penjemuran yang tidak sebanding dengan jumlah hasil panen. Selain itu, tingginya upah tenaga pemetik turut menekan keuntungan petani.
Padahal, harga kopi di pasaran cukup menggembirakan, yakni sekitar Rp63.000 per kilogram untuk jenis bean robusta. Hanya saja, biaya produksi yang besar mulai dari pemupukan, pemetikan, hingga pasca panen membuat margin keuntungan tidak setinggi yang diharapkan.
Seiring meningkatnya tren konsumsi kopi, baik green beans maupun ground coffee, permintaan terus naik dalam lima tahun terakhir. Hal ini ditopang oleh kian berkembangnya budaya ngopi di Ponorogo, yang telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.
Untuk menjawab peluang sekaligus tantangan tersebut, Lukito mendorong adanya sinergi antara petani, pemerintah, swasta, dan pegiat kopi. Upaya yang bisa dilakukan antara lain memperluas akses pasar melalui branding, festival, pameran, kemitraan, hingga penyederhanaan perizinan usaha.
“Dengan kerja sama yang baik, Ponorogo tidak hanya bisa menjadi sentra produksi kopi, tetapi juga pusat budaya ngopi yang berdaya saing,” pungkasnya. (As Adil Fajar /Koresponden Ponorogo)





