IndonesiaBuzz: Surakarta, 2 Oktober 2025 – Berdiri sejak 1915, Rumah Sakit Kadipolo di Jalan Dr. Radjiman, Laweyan, Surakarta, menyimpan jejak panjang sejarah kesehatan di Kota Bengawan. Didirikan oleh Sunan Paku Buwono X, rumah sakit ini awalnya bernama Panti Raga, poliklinik khusus abdi dalem Keraton Surakarta yang kala itu menghadapi wabah pes.
Memasuki tahun 1960, pengelolaan Kadipolo diambil alih Pemerintah Kota Surakarta karena keraton mengalami kesulitan keuangan. Rumah sakit ini lalu digabung dengan RS Jebres dan RS Mangkubumen, masing-masing punya spesialisasi berbeda. Kadipolo sendiri difokuskan untuk penyakit dalam dan kandungan.
Namun, perjalanannya tak mulus. Pada 1977, Kadipolo berhenti berfungsi sebagai rumah sakit dan dialihfungsikan menjadi Sekolah Pendidikan Keperawatan (SPK) hingga 1982. Beberapa tahun setelahnya, bangunan ini sempat digunakan sebagai mess klub sepak bola Arseto Solo.
Sayangnya, kini kondisi bangunan bersejarah itu memprihatinkan. Sejumlah bagian terbengkalai, dinding berlumut, dan tak lagi terawat. Padahal, sejak 2013, Rumah Sakit Kadipolo telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya melalui SK Wali Kota Surakarta No. 646/1-R/1/2013.
Rencana alih fungsi bangunan menjadi perumahan sempat mencuat, namun mendapat penolakan keras dari pegiat budaya dan arkeolog. Mereka menegaskan Kadipolo dilindungi UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, sehingga tak boleh dialihfungsikan untuk kepentingan komersial.
Kini, Rumah Sakit Kadipolo berdiri sebagai saksi bisu sejarah kesehatan di Surakarta. Masyarakat berharap ada langkah serius dari pemerintah untuk melestarikan sekaligus menghidupkan kembali nilai historis bangunan ini agar tetap bisa dinikmati generasi mendatang. @jjpamungkas







