IndonesiaBuzz: Humaniora – Di usia 84 tahun, Nani Nurani masih menyimpan ingatan yang tak lekang tentang masa mudanya di Istana Negara Cipanas, Cianjur. Dari gadis desa yang dipilih sebagai pagar ayu untuk menyambut tamu negara, ia menjelma menjadi penyanyi kesayangan Presiden Soekarno. Namun, nasibnya berubah drastis ketika gelombang politik 1965 menyeretnya ke balik jeruji besi.
“Dulu saya diminta langsung melayani Bung Karno. Lama-lama, karena suara saya, sering disuruh nyanyi,” ujar Nani, di kediamannya di Koja, Jakarta Utara, Rabu pekan lalu. Lagu Sunda Degung Budak Cerik menjadi favorit Bung Karno, yang kerap ia bawakan setiap ada tamu kehormatan di Istana Cipanas.
Popularitas itu pula yang membuat Nani tampil dalam acara ulang tahun Partai Komunis Indonesia (PKI) di Cianjur, Juni 1965. “Waktu itu PKI belum dilarang. Saya datang sebagai penyanyi dan penari,” katanya. Tak ada firasat apa-apa. Namun, setelah pecah peristiwa 30 September, kehadirannya di panggung PKI itu menjadi bumerang. Ia dituding ikut mendukung gerakan.
Rumor berkembang liar. Nani bahkan dituduh ikut ke Lubang Buaya, bernyanyi, menari, hingga terlibat dalam penyiksaan jenderal. “Saya juga enggak tahu kenapa bisa heboh begitu,” kenangnya getir.
Awalnya ia masih berusaha bekerja normal di Jakarta, termasuk di perusahaan militer PT Takari. Tapi pada 23 Desember 1968, saat pulang ke Cianjur, militer mengetuk pintu rumahnya. “Pintu digedor, begitu dibuka, dua senapan laras panjang diarahkan ke saya,” tutur Nani.
Ia dibawa ke Gedung Ampera, Cianjur, bersama ayahnya. Pemeriksaan berlangsung semalaman. “Saya selalu ditanya, 30 September ada di mana. Saya jawab tidur. Tapi mereka tidak percaya,” ujarnya. Meski jaksa kemudian mengakui salah tangkap, kasus sudah terlanjur dilaporkan ke Jakarta. Nani tetap ditahan.
Tujuh tahun hidup di balik jeruji, ia menyaksikan penderitaan para tahanan politik perempuan. Nani selamat dari penyiksaan berkat perlindungan atasannya, Jenderal Suryo Sumarno. Namun kesehatan lambungnya memburuk. Pada 19 November 1975, ia akhirnya dibebaskan tanpa pernah menjalani sidang pengadilan.
“Indonesia waktu itu seperti tidak punya hukum. Saya dipenjara tanpa pernah terbukti bersalah,” katanya.
Kini, di masa senjanya, Nani hidup tenang di Koja. Luka sejarah tetap tersimpan, meski ia berusaha menuturkan kisahnya dengan suara tegar. Dari penyanyi istana yang dielu-elukan, ia berubah menjadi tahanan politik tanpa pengadilan. “Saya hanya ingin orang tahu, tuduhan itu tidak pernah terbukti.” (red)







