
Oleh: Eko Sigit Pujianto
IndonesiaBuzz: Sudut Pandang – Saya masih ingat betul ketika nama Nanik S Deyang begitu lantang terdengar di ruang publik. Saat itu, ia dikenal sebagai wartawan senior yang tak pernah ragu menguliti kebijakan pemerintah. Kritik-kritiknya tajam, artikulasinya tegas, dan sikapnya konsisten menulis adalah alat perjuangan.
Bagi Nanik, fungsi pers bukan sekadar merekam fakta, melainkan menuliskan kegelisahan rakyat. Ia menjadikan pena sebagai senjata, dan jurnalisme sebagai panggung untuk memperjuangkan nurani. Tidak berlebihan jika kemudian publik menempatkannya sebagai simbol bahwa jurnalisme sejati adalah keberanian berpihak pada kebenaran.
Namun kini, Nanik berada pada posisi yang berbeda. Bukan lagi sebagai “pengawas” dari luar, melainkan bagian dari pemerintahan, menjabat sebagai Wakil Kepala BGN. Dunia yang ia hadapi jelas berbeda bukan lagi sekadar ruang opini dan kritik, tetapi realitas sistem yang ruwet, berlapis regulasi, serta penuh dengan praktik teknis yang telah berurat akar sejak lama.
Salah satu ujian beratnya datang dari kisruh MBG, di mana kasus keracunan muncul di berbagai tempat, menyeret nama lembaga, dan menuntut tanggung jawab. Pertanyaan pun mencuat: bagaimana Nanik memandang semua ini dengan kacamata lamanya sebagai pers?
Apakah idealisme yang dulu ia jaga dengan pena masih menjadi simbol pergerakan, ataukah ia harus rela tergerus oleh arus sistem yang “tahu sama tahu”?
Di sinilah dilema seorang jurnalis idealis ketika memasuki dunia kekuasaan. Di satu sisi, Nanik punya rekam jejak panjang sebagai sosok yang kritis dan berpihak pada rakyat. Namun di sisi lain, ia kini berhadapan dengan birokrasi yang menuntut kompromi, regulasi yang sering kali tidak sederhana, serta budaya lama yang sulit dirombak dalam sekejap.
Sebagai penulis, saya melihat ini bukan sekadar ujian bagi Nanik pribadi, tetapi juga cermin bagi kita semua apakah keberanian seorang jurnalis tetap bisa bertahan ketika bersentuhan dengan kursi kekuasaan?
Jika Nanik mampu menjaga idealismenya, maka ia bisa membuktikan bahwa pena tetap lebih tajam dari kekuasaan. Namun jika tidak, sejarah akan mencatatnya sebagai sosok yang akhirnya ikut larut dalam arus sistem yang pernah ia kritik habis-habisan.
Pada akhirnya, publik menunggu. Apakah Nanik S Deyang akan tetap menjadi simbol keberanian yang dulu kita kenal, atau berubah menjadi bagian dari kompromi politik yang ia lawan dengan tulisannya bertahun-tahun?@sigit







