Nama sebuah kota sering kali menyimpan narasi yang jauh lebih kuno dari tanggal pendirian resminya. Kisah tentang nama “Bandung” adalah cerminan sempurna dari kekayaan sejarah tersebut. Secara historis, nama ini diyakini berasal dari kata “bendung” atau “bendungan”
IndonesiaBuzz: Historia – Hari ini, 25 September, diperingati sebagai Hari Jadi Kota Bandung. Penetapan ini merujuk pada sebuah keputusan bersejarah yang dibuat oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels, pada tahun 1810. Meskipun terkesan sederhana, keputusan ini menjadi titik balik penting yang mengubah sebuah wilayah pedalaman menjadi salah satu kota terpenting di Indonesia.
Surat Keputusan Daendels dan Kisah Tongkat Legendaris
Pada masa itu, Daendels sedang gencar membangun Jalan Raya Pos (Groote Postweg) yang membentang dari Anyer hingga Panarukan. Ketika tiba di Cikapundung pada 25 September 1810, Daendels mengeluarkan surat keputusan (besluit) untuk memindahkan ibu kota Kabupaten Bandung yang saat itu berada di Krapyak (sekitar Dayeuhkolot) ke lokasi yang lebih strategis dan bebas banjir. Lokasi yang dipilih adalah lahan kosong di pinggir Sungai Cikapundung, yang kini menjadi pusat Kota Bandung.
Kisah legendaris menyertai peristiwa ini. Konon, saat meninjau lokasi, Daendels menancapkan sebuah tongkat kayu ke tanah dan berkata kepada Bupati Bandung saat itu, R.A. Wiranatakusumah II, “Usahakan, bila aku kembali ke tempat ini, telah dibangun sebuah kota.” Perintah itu lantas diwujudkan, dan lokasi penancapan tongkat itu kini diabadikan sebagai Tugu 0 KM Bandung, tepat di depan Kantor Pos Besar.
Peran Sentral R.A. Wiranatakusumah II: “Bapak Pendiri” dari Kota Bandung
Meskipun keputusan datang dari Daendels, para sejarawan sepakat bahwa R.A. Wiranatakusumah II adalah sosok kunci di balik berdirinya Kota Bandung. Ia dijuluki sebagai The Founding Father karena sudah memiliki gagasan untuk memindahkan ibu kota jauh sebelum Daendels datang.
Sang Bupati menyadari bahwa lokasi lama sudah tidak memadai dan proaktif mencari tempat baru. Keterlibatan dan inisiatifnya membuktikan bahwa berdirinya Kota Bandung bukanlah semata-mata produk dari kekuasaan kolonial, melainkan hasil kolaborasi strategis antara kekuasaan lokal dan pusat.
Mengapa Tanggal 25 September? Sebuah Fakta Sejarah yang Dikoreksi
Sebelum tahun 1998, Hari Jadi Kota Bandung diperingati setiap tanggal 1 April. Tanggal ini merujuk pada penetapan status Bandung sebagai Gemeente (Kotapraja) oleh pemerintah kolonial pada 1 April 1906. Namun, setelah melalui penelitian mendalam oleh tim sejarawan pada tahun 1997, Pemerintah Kota Bandung mengoreksi tanggal tersebut.
Berdasarkan bukti otentik, ditemukan bahwa surat keputusan Daendels yang meresmikan Bandung sebagai ibu kota kabupaten dikeluarkan pada 25 September 1810. Perubahan ini disahkan melalui Peraturan Daerah (Perda) No. 35 Tahun 1998, menegaskan kembali fondasi historis yang lebih kuat.
Asal-Usul Nama Bandung: dari Danau hingga Perahu
Nama “Bandung” sendiri memiliki beberapa versi asal-usul. Salah satu teori populer menyebut nama ini berasal dari kata bendung atau bendungan. Hal ini berkaitan dengan sejarah Geologi di mana wilayah cekungan Bandung pada zaman purba pernah menjadi sebuah danau raksasa akibat lava yang membendung aliran Sungai Citarum.
Versi lain yang lebih dikenal dalam cerita rakyat mengaitkannya dengan kata perahu bandung, sejenis perahu yang terbuat dari dua rakit yang diikat menjadi satu. Cerita ini sering dikaitkan dengan legenda Sangkuriang yang konon menggunakan perahu tersebut. Apapun asal-usulnya, nama Bandung telah lekat dengan identitas kota yang kini dikenal sebagai pusat pendidikan, kreatif, dan pariwisata. @indonesiabuzz







