IndonesiaBuzz : Budaya – Debu membumbung tinggi di atas tanah lapang. Sepasang sapi pacu yang mengenakan kaleles perlengkapan kayu untuk menyangga joki melaju kencang, adu cepat melawan pasangan lain. Di atasnya, tukang tongkok (joki) berusaha mengendalikan arah sambil mempertahankan keseimbangan. Sorak sorai penonton yang memenuhi arena menambah semarak perlombaan. Inilah suasana Karapan Sapi, tradisi pacuan sapi khas Madura, Jawa Timur, yang tetap bertahan lintas generasi.
Setiap tahun, Karapan Sapi digelar di berbagai kabupaten di Pulau Madura, biasanya pada Agustus hingga September. Final perebutan Piala Bergilir Presiden digilirkan setiap tahun antar kabupaten. Untuk 2025, Kabupaten Bangkalan menjadi tuan rumah ajang bergengsi ini, menggantikan tradisi lama yang dahulu selalu dipusatkan di Pamekasan.
Dalam perlombaan, lintasan pacu biasanya sepanjang 100 meter. Pertarungan adu cepat itu hanya berlangsung singkat sekitar 10 hingga 15 detik namun memerlukan kerja sama erat antara joki dan sapi pacu. Kategori lomba dibagi tiga, kelas sapi kecil, sedang, dan besar. Di balik gemuruh sorak penonton, banyak pihak terlibat, mulai dari pemilik sapi pacu, tukang tongkok, tukang tambeng (penahan tali kekang), tukang gettak (penggertak sapi), tukang tonja (penarik dan penuntun sapi), hingga tukang gubra (penyemangat sapi pacu).
Asal usul Karapan Sapi memiliki beberapa versi. Sebagian kisah menyebut Kyai Pratanu, tokoh penyebar Islam di akhir abad ke-16, yang memanfaatkan karapan sebagai sarana dakwah. Versi lain yang populer di Sumenep mengaitkan tradisi ini dengan Syekh Ahmad Baidawi atau Pangeran Katandur, mubaligh dari Kudus pada abad ke-17. Ia mengajarkan teknik bercocok tanam yang meningkatkan hasil panen. Sebagai ungkapan syukur, masyarakat mengadakan pacuan sapi. Dari kata Arab kirabah (persahabatan), tradisi ini kemudian dikenal sebagai kerapan.
Kini, Karapan Sapi tak lagi sekadar hiburan rakyat atau penanda awal musim tanam tembakau. Tradisi ini telah terorganisir dengan baik dan berkembang menjadi simbol prestise sosial. Sapi pacu berkualitas tinggi kerap menjadi penanda status dan kebanggaan pemiliknya. Meski mengalami pergeseran fungsi, Karapan Sapi tetap menjadi warisan budaya yang memperkuat identitas masyarakat Madura dan daya tarik wisata budaya Indonesia. (red)







