Oleh: KPA. Hari Andri Winarso Wartonagoro
Wakil Direktur Utama PT Sunan Nusantara Media, Jurnalis, Pemerhati Budaya

IndonesiaBuzz: Opini – Bukan rahasia lagi bahwa Lingsir Wengi, salah satu tembang Jawa yang paling dikenal di Indonesia saat ini, lebih sering dipersepsi sebagai lagu pemanggil arwah ketimbang kidung cinta. Ironis. Sebab apa yang seharusnya menjadi ekspresi estetika, spiritualitas, dan rindu dalam budaya Jawa, kini justru dikunci dalam bingkai mistis yang direproduksi terus-menerus oleh industri horor, sinema, dan media sosial.
Sebagai pemerhati budaya dan seorang jurnalis yang tumbuh bersama gelombang memori kolektif masyarakat Jawa, saya merasa perlu untuk mengurai ulang simpul yang salah kaprah ini. Bukan semata demi meluruskan sejarah, tetapi untuk membela martabat budaya yang terlalu lama ditafsirkan secara menyimpang.
Jejak Spiritual yang Dilupakan
Konon Lingsir Wengi adalah tembang yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga, wali besar yang menggunakan seni dan budaya sebagai medium dakwah Islam di tanah Jawa. Tembang ini diyakini menjadi bagian dari praktik spiritual selepas shalat malam, dipakai sebagai penolak bala, penjaga malam, dan pembuka dialog sunyi antara manusia dan Tuhan. Dalam tafsir ini, Lingsir Wengi adalah ekspresi wirid rasa, zikir yang dilantunkan dengan bahasa budaya, bukan hanya dengan lafaz syar’i.
Namun versi populer yang kini dikenal justru berasal dari Sukap Jiman, seniman dari Purwodadi yang menulisnya pada 1995. Ia menyusun lagu ini berdasarkan pengalaman pribadi: tentang rindu, cinta, dan keterpautan jiwa di larut malam. Tidak ada makhluk halus. Tidak ada gaib. Tidak ada mistik. Yang ada hanya kepedihan batin yang dilantunkan dengan cengkok lirih dan lirik puitis.
Maka kita bertanya: sejak kapan rindu menjadi sesuatu yang menyeramkan?
Dari Cinta Menjadi Kutukan: Peran Sinema dalam Mengaburkan Makna
Segalanya berubah ketika film Kuntilanak (2006) menjadikan Lingsir Wengi sebagai soundtrack pemanggil setan. Dalam naskah film itu, lirik lagu dimodifikasi. Dimasukkan bait-bait yang mengandung unsur perintah kepada jin, padahal tidak pernah ada dalam versi asli. Adegan demi adegan menampilkan tembang ini sebagai semacam mantra pembuka dimensi lain.
Sejak itu, Lingsir Wengi tak pernah terdengar dengan cara yang sama. Lagu ini menjadi “hantu” bagi publik: sesuatu yang dihindari, dibisikkan dengan takut, atau dijadikan bahan uji nyali. Stigma ini terus tumbuh lewat konten media sosial, hingga meme horor yang beredar viral tanpa kontrol. Sayangnya, tak banyak yang berpikir kritis: bahwa kidung budaya telah dipaksa menjalani peran yang bukan miliknya.
Kita menyaksikan bagaimana budaya bisa dilucuti dari konteksnya, hanya demi sensasi.
Tembang Durma: Suara dari Jiwa, Bukan dari Dunia Gaib
Sebagai seorang peminat sastra Jawa klasik, saya merasa perlu mengingatkan bahwa Lingsir Wengi digubah dalam metrum macapat Durma, jenis tembang yang sarat dengan getaran emosional dan tegas, dalam, penuh penghayatan. Dalam tradisi macapat, setiap metrum punya suasana batin. Durma bukanlah tembang jahat, melainkan wadah ekspresi dari penderitaan batin yang luhur. Ia bisa menampung amarah, cinta, harapan, bahkan tangis jiwa.
Lalu mengapa, ketika digunakan dalam sinema, nada-nada ini tiba-tiba dikurung dalam citra horor?
Jawabannya sederhana: karena industri budaya kita telah lama menjual ketakutan sebagai komoditas massal. Dan ketakutan itu mudah disematkan pada hal-hal yang asing, klasik, dan tidak dipahami secara utuh oleh publik urban. Akibatnya, (mungkin) seluruh tembang Jawa yang pelan dan sendu terancam dikategorikan sebagai bagian dari “lagu misteri,” padahal tidak demikian.
Budaya Tidak Netral: Kita Harus Memilih Sisi
Tantangan hari ini bukan hanya soal meluruskan sejarah. Ini soal memilih: apakah kita akan membiarkan warisan budaya kita ditafsirkan oleh pasar dan industri yang hanya peduli pada engagement dan clickbait, ataukah kita akan merebut kembali narasi itu?
Membela Lingsir Wengi bukan sekadar membela sebuah lagu. Ini tentang membela integritas budaya. Tentang menyelamatkan memori kolektif dari distorsi komersial. Tentang menjaga ruang spiritual dan emosional yang dulu dibangun oleh para leluhur dengan getaran rasa, bukan getaran takut.
Kita tidak menolak modernitas. Tetapi modernitas yang sehat adalah yang tahu menghormati akar. Film boleh menafsirkan ulang, tetapi masyarakat harus diberi ruang untuk memahami dan membandingkan. Edukasi adalah kunci. Media, termasuk kami di IndonesiaBuzz.com—harus menjadi garda depan untuk memulihkan konteks budaya yang telah tercemar.
Menutup Malam, Membuka Rasa
Saya percaya, malam bukan hanya waktu tidur. Bagi budaya Jawa, malam adalah ruang spiritual. Dan Lingsir Wengi adalah salah satu pintunya. Tembang ini bukan suara hantu, ia adalah suara hati. Suara yang bergetar dari jiwa yang kesepian, mencintai dalam diam, dan mencari penghiburan dalam gelap.
Malam tidak perlu ditakuti, jika kita tahu cara mendengarkannya.
Dan Lingsir Wengi—kalau kita mau mendengar dengan benar, adalah pelajaran tentang itu: tentang mendengarkan rasa, bukan mitos. Tentang memulihkan makna, bukan menciptakan ketakutan palsu. Tentang menghormati tembang yang diciptakan untuk menyembuhkan, bukan untuk menakuti.
Semoga kita cukup berani untuk mendengarkannya kembali: tanpa takut, tanpa prasangka. @indonesiabuzz
*Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili posisi resmi perusahaan media







