IndonesiaBuzz: Tulungagung, 23 Juli 2025 – Di sudut tenang Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, berdiri sebuah bangunan kuno yang memancarkan aura keagungan masa silam Candi Sanggrahan. Megah dalam kesunyian, candi ini merupakan peninggalan bersejarah dari era Kerajaan Majapahit yang diyakini dibangun pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, sekitar tahun 1358–1359 Masehi. Fungsi utamanya adalah sebagai tempat pemujaan atau peribadatan, menjadi pusat kegiatan spiritual bagi umat Hindu dan Buddha di masanya.
Begitu melangkah ke kawasan candi, pengunjung akan disambut oleh suasana hening dan meneduhkan. Tak ada derai keramaian kota hanya angin, dedaunan, dan semerbak tanah purba yang menyapa. Meski tidak dipungut biaya masuk, situs ini tetap terawat dengan baik dan menarik minat para pelancong sejarah maupun peziarah spiritual, terutama di akhir pekan, dengan rata-rata 400 pengunjung setiap bulannya.
Dibalik kesakralan dan keasrian situs ini, ada dua sosok setia yang merawatnya, Muadin (42) dan Faisal (32), juru pelihara yang telah mengabdikan waktu dan tenaganya demi menjaga kemurnian candi. “Kami membersihkan candi dengan cara tradisional. Menggunakan sapu lidi dan sikat nilon, kami siram dengan air lalu digosok perlahan, agar batu-batu tua ini tidak rusak,” tutur Muadin.
Pelestarian Candi Sanggrahan bukan perkara mudah. Proyek pemugaran besar dimulai tahun 2014 dengan fokus pada bangunan utama, dan rampung delapan tahun kemudian di 2022 setelah penyempurnaan pagar pelindung. Namun, peninggalan sejarah tak hanya terbatas pada bangunan utama. Di sekeliling area, tersebar artefak masa lalu tugu pemujaan, umpak batu, bahkan pecahan gerabah kuno yang kerap ditemukan saat penggalian. Enam arca Buddha yang dulunya berdiri di lokasi kini disimpan di rumah juru kunci demi keamanan.
Nama “Sanggrahan” sendiri diduga berasal dari istilah kuno yang merujuk pada tempat tinggal para pendeta atau wihara. Temuan pondasi bangunan profan yang cukup luas di sekitar kawasan memperkuat dugaan bahwa dahulu tempat ini merupakan kompleks keagamaan Buddha atau Hindu, tempat bermukim dan beribadahnya para pertapa atau resi.

Candi Sanggrahan merupakan situs bersejarah yang menarik untuk dikunjungi dan dipelajari.
Candi Sanggrahan bukan hanya menyimpan memori sejarah, namun juga tetap hidup sebagai ruang spiritual masa kini. Pada malam 1 Suro yang lalu, misalnya, sekitar 200 umat Hindu dan Buddha dari Tulungagung dan Kediri berkumpul di sini. Doa-doa dilantunkan, dupa menyala, dan suasana sakral kembali menyelimuti batu-batu purba ini seperti ratusan tahun yang lalu.
Ketertarikan pada situs ini sudah berlangsung sejak zaman kolonial. Peneliti Belanda J. Knebel tercatat sebagai orang pertama yang mengkaji Candi Sanggrahan pada awal abad ke-20, melalui temuannya terhadap lima arca Dhyani-Buddha, meski sebagian besar sudah kehilangan kepala. Penelitian dilanjutkan oleh Oudheidkundige Dienst pada 1915, dan bahkan Sir Thomas Stamford Raffles sempat mencatat keberadaan candi ini dalam bukunya yang terbit pada 1917, disusul oleh pengamatan N.W. Hoepermans.
Kini, Candi Sanggrahan berdiri sebagai bukti bisu peradaban luhur. Dalam keheningannya, ia menyimpan kisah tentang spiritualitas, kemegahan arsitektur klasik, dan warisan budaya yang tak ternilai. Sebuah situs yang tak hanya layak dikunjungi, tetapi juga dihargai sebagai bagian dari identitas dan kebesaran Nusantara.(Ika Firgiyanti/Koresponden Tulungagung)







