IndonesiaBuzz: Jakarta 17 Juni 2025 – Masyarakat Indonesia diimbau bersiap menghadapi potensi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi mulai bulan depan. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya harga minyak mentah dunia akibat ketegangan geopolitik antara Israel dan Iran yang kian memanas.
Harga minyak global seperti Brent dan WTI dilaporkan naik dalam beberapa hari terakhir, memicu kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan dari wilayah Timur Tengah. Brent tercatat naik di atas US$73 per barel, sedangkan WTI menembus US$72 per barel. Jika konflik terus berlanjut dan meluas ke wilayah strategis seperti Selat Hormuz, harga minyak dunia dikhawatirkan bisa menembus angka US$100 per barel.
Menurut pengamat energi, kenaikan harga minyak dunia akan berdampak langsung pada harga BBM non-subsidi di Indonesia seperti Pertamax dan Dex Series. Harga-harga ini mengikuti tren pasar global dan tidak mendapatkan subsidi pemerintah, sehingga fluktuasi harga minyak mentah akan langsung tercermin di SPBU.
Sementara itu, untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, pemerintah masih menahan harga meski tekanan global meningkat. Namun apabila harga minyak dunia melonjak drastis dan berkepanjangan, bukan tidak mungkin pemerintah akan mengevaluasi ulang kebijakan harga BBM subsidi dan kompensasi anggaran negara.
Ekonom energi Fahmy Radhi dari UGM menyatakan, “Jika minyak mentah dunia tembus US$100 per barel, maka bukan hanya BBM nonsubsidi yang akan naik, tetapi BBM subsidi pun bisa direvisi. Pemerintah harus menyiapkan skema bantuan sosial untuk masyarakat miskin jika itu terjadi.”
Pemerintah saat ini juga tengah mengupayakan peningkatan produksi minyak dalam negeri dan mempercepat pemanfaatan energi terbarukan seperti biodiesel dan geothermal untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Masyarakat diminta untuk lebih bijak dalam penggunaan BBM dan memantau perkembangan harga serta kebijakan pemerintah secara berkala. Penggunaan transportasi publik dan kendaraan hemat energi juga disarankan sebagai bentuk antisipasi terhadap lonjakan harga.







