IndonesiaBuzz: Kuliner – Angkringan adalah istilah yang tidak asing dalam dunia kuliner, khususnya di daerah Solo dan Jogja. Konsep menjual makanan dan minuman yang tradisional dan unik ini dikenal dengan berbagai sebutan di beberapa daerah, seperti “Hik” atau “Wedangan” di Solo, “Angkringan” di Jogja, dan “Kucingan” di Semarang.
Kata “angkringan” sendiri berasal dari bahasa Jawa, yaitu “angkring” atau “nagkring,” yang berarti duduk santai atau duduk bebas.
Sejarah Angkringan
Sejarah angkringan dimulai dari Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, pada tahun 1930-an. Pada masa itu, seorang warga Ngerangan bernama Karso Dikromo, atau lebih dikenal sebagai Karso Djukut, merantau ke Solo karena kondisi ekonomi yang memprihatinkan di desa sebelum kemerdekaan memaksa Djukut mencari penghidupan di Kota Solo.
Awalnya, Djukut bekerja merawat kerbau dan bertani untuk seorang juragan terikan di Laweyan, Solo. Ia kemudian diberi kesempatan untuk berjualan terikan. Untuk menarik lebih banyak pembeli, Djukut berinovasi dengan mengganti cara berjualannya. Jika sebelumnya ia membawa makanan di atas kepala dan menenteng cerek, kemudian ia menciptakan pikulan untuk menjual dagangannya.
Usaha Djukut berkembang pesat. Ia dibantu oleh warga sekampungnya, Wiryo Je, yang berperan sebagai “prembe” (orang yang membantu operasional angkringan). Wiryo Je juga menemukan racikan teh dan jahe menjadi teh oplosan khas yang masih banyak digunakan oleh para pedagang angkringan hingga saat ini.

Pada tahun 1975, Hik telah tersebar di penjuru Kota Solo, dan cara berjualannya pun berubah menjadi menggunakan gerobak.
Perkembangan Angkringan
Usaha angkringan terus berkembang hingga sekarang, dengan generasi penerus yang menjaga eksistensinya. Angkringan yang awalnya hanya ada di Solo, Jogja, dan Jawa Tengah, kini telah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia. Usaha ini menjadi tumpuan ekonomi warga Desa Ngerangan. Dari hasil penjualan, mereka tidak hanya mampu menafkahi keluarga, tetapi juga menyekolahkan anak-anak hingga ke jenjang perguruan tinggi, mengembangkan usaha, serta mengurangi pengangguran di desa.
Perkembangan usaha angkringan warga Ngerangan tidak terlepas dari keuletan mereka dalam berdagang serta kemampuan beradaptasi dengan selera masing-masing daerah. Saat ini, angkringan bukan hanya tempat untuk menghilangkan lapar dan dahaga dengan harga murah, tetapi juga menjadi tempat nongkrong populer, terutama bagi anak-anak muda. Konsep angkringan pun mengalami peningkatan, menjadi lebih modern dengan fasilitas seperti wifi gratis dan menu yang lebih beragam selain gorengan dan nasi kucing.
Eksistensi Angkringan
Eksistensi warung angkringan menjadi kebanggaan bagi warga dan pemerintah desa yang berada di pelosok selatan Kabupaten Klaten. Pemerintah desa berupaya menjaga eksistensi dan meneguhkan Ngerangan, Bayat, Klaten, sebagai desa cikal bakal angkringan. Mereka menggali sejarah angkringan dan mengadakan berbagai kegiatan untuk mengenalkan Ngerangan sebagai tempat asal angkringan. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Ngerangan menangkap momen ini untuk menjadikan angkringan sebagai daya tarik tersendiri, dengan membuat museum angkringan hingga wisata edukasi yang dapat mendongkrak ekonomi daerah.
Selain itu, Pokdarwis setempat sering menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan pelatihan keterampilan di berbagai daerah.







