IndonesiaBuzz: Internasional – Utang nasional Amerika Serikat (AS) mencapai rekor tertinggi. Hal ini membuat Perekonomian negara adikuasa itu menghadapi tantangan serius.
Dalam sebuah wawancara awal pekan ini, CEO JPMorgan, Jamie Dimon, mengingatkan bahwa keadaan ini perlu mendapat perhatian segera dari pemerintah untuk menghindari potensi krisis ekonomi yang besar.
“Dekat dengan tebing, kita melihat tebingnya. Dalam sekitar 10 tahun, kita akan bergerak dengan kecepatan 60 mil per jam menuju ke sana,” ungkap Dimon dalam wawancaranya dengan Fox News, Senin (29/1/2024).
Dimon juga setuju dengan pandangan mantan Ketua DPR, Paul Ryan. Paul Ryan menyebut utang yang semakin melonjak sebagai “krisis yang paling dapat diprediksi yang pernah kita alami.”
Peringatan serupa disampaikan oleh Ryan dan Dimon dalam sebuah diskusi panel di Pusat Kebijakan Bipartisan pekan lalu. Utang pemerintah federal Amerika Serikat mencapai angka US$34 triliun (Rp537.677 triliun) pada akhir Desember 2023. Angka ini menciptakan rekor sejarah utang AS.
Saat ini, setiap keluarga Amerika dengan tiga anggota keluarga memiliki tanggungan sekitar US$102.000. Pada tahun 2023 saja, utang tersebut tumbuh lebih dari US$4 triliun.
Menurut Peter G. Peterson Foundation, sebuah kelompok kebijakan fiskal non-partisan di New York, total utang publik AS hampir setara dengan gabungan perekonomian China, Jerman, Jepang, India, dan Inggris.
Menteri Keuangan AS, Janet Yellen, menggambarkan angka utang tersebut sebagai “angka yang menakutkan”. Yellen menyatakan, saat ini, utang pemerintah cukup terkendali. Namun, lebih lanjut, ia menyerukan langkah-langkah untuk memastikan defisit dapat ditekan dan tetap pada tingkat yang terkendali.
Utang ini mencakup kewajiban pemerintah federal kepada kreditor, termasuk individu, warga negara, dan investor asing, serta negara bagian. Pemerintah AS terus melakukan peminjaman untuk menutupi defisit anggaran yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade. @indonesiabuzz







