IndonesiaBuzz: Travel & Staycation – Penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk berbagai kebutuhan kini semakin populer, termasuk dalam urusan liburan. Namun, wisatawan tetap perlu bijak agar tidak merugi.
Menurut survei terbaru yang dilakukan Kaspersky bersama Toluna pada musim panas 2025, hanya kurang dari sepertiga responden yang benar-benar mempercayai AI untuk merencanakan perjalanan. Meski begitu, tingkat kepuasan pengguna justru sangat tinggi. Sebanyak 96% responden mengaku puas dengan pengalaman menggunakan AI, dan 84% menyatakan berencana kembali menggunakannya untuk perjalanan berikutnya.
Survei ini melibatkan 3.000 responden dari 15 negara, termasuk Indonesia, India, Inggris, Tiongkok, hingga Arab Saudi. Hasilnya menunjukkan bahwa fungsi AI yang paling banyak dimanfaatkan masih seputar riset (76%), disusul pekerjaan (45%) dan belajar (40%). Sementara itu, penggunaan AI untuk travel planning baru menempati angka 28%, jauh lebih kecil dibandingkan kategori lain.
Meski jumlah penggunanya belum dominan, kepuasan wisatawan yang sudah mencoba cukup mencolok. Mayoritas mengandalkan AI untuk mencari informasi destinasi wisata, aktivitas, hingga rekomendasi toko suvenir (70%). Tidak sedikit juga yang memanfaatkan AI untuk memilih akomodasi (66%), menentukan restoran (60%), hingga berburu tiket perjalanan (58%).
Menariknya, keluarga dengan anak tercatat lebih aktif memakai AI dalam persiapan liburan dibandingkan kelompok tanpa anak. Hal ini menunjukkan bahwa AI cukup membantu menghemat waktu ketika merancang agenda perjalanan.
Namun, risiko tetap ada. Sebanyak 45% responden bahkan menggunakan AI untuk menjawab pertanyaan soal visa dan migrasi. Padahal, kesalahan informasi bisa berakibat fatal. Salah satunya dialami seorang penulis asal Australia yang gagal berangkat ke konferensi di Chili akibat mendapat saran visa yang keliru dari ChatGPT. Kasus ini menegaskan bahwa wisatawan tetap perlu verifikasi manual pada informasi penting, terutama yang menyangkut dokumen perjalanan.
Dengan tren penggunaan yang kian meningkat, AI diprediksi akan semakin populer dalam membantu perencanaan liburan. Meski begitu, para wisatawan disarankan tetap berhati-hati dan menjadikan AI sebagai alat bantu, bukan sumber informasi tunggal. @jjpamungkas







