IndonesiaBuzz: Travel & Staycation – Di ketinggian sekitar 2.200 meter di atas permukaan laut, tersembunyi sebuah telaga mungil yang kerap disebut sebagai “permata tersembunyi” Dieng yang bernama Telaga Dringo. Terletak di kawasan dataran tinggi Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, telaga ini menyuguhkan lanskap hening nan menawan dengan balutan kabut tipis yang nyaris abadi. Meski belum sepopuler Telaga Warna atau Kawah Sikidang, Dringo mulai dilirik sebagai destinasi ekowisata sekaligus lokasi penelitian ilmiah.
Secara visual, Telaga Dringo memanjakan mata dengan air danau yang tenang, dikelilingi perbukitan hijau dan sisa-sisa kawah vulkanik. Suhu udara yang menusuk dingin pada pagi hari menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki dan pecinta alam yang mencari ketenangan jauh dari hiruk-pikuk wisata massal. Banyak pengunjung memilih mendirikan tenda di tepi danau, menanti keindahan matahari terbit yang perlahan muncul di balik perbukitan.
Namun, di balik keelokannya, Telaga Dringo menyimpan catatan penting dari sisi ekologi. Studi limnologi mencatat adanya keanekaragaman plankton yang cukup tinggi, dengan dominasi Chlorophyta (ganggang hijau) yang menandakan perairan masih subur. Kehadiran zooplankton seperti Asplanchna sp. dan Nauplius dalam jumlah moderat memperlihatkan rantai makanan akuatik masih berfungsi.
Meski demikian, indeks keanekaragaman yang cenderung rendah hingga sedang menjadi alarm dini adanya tekanan ekologis. Indikasi pencemaran organik, baik dari aktivitas wisata maupun pertanian sekitar, mulai muncul. Dari sisi limnologis, Telaga Dringo dikategorikan mesotrofik hingga eutrofik: kaya nutrien, baik bagi produktivitas biologis, tetapi berisiko memicu ledakan alga jika tidak dikelola dengan bijak.
Para ahli menilai, menjaga keberlanjutan Telaga Dringo membutuhkan langkah komprehensif. Mulai dari penerapan sistem ekowisata berbasis masyarakat, pembentukan zonasi konservasi, hingga edukasi bagi wisatawan dan pelajar agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. Monitoring rutin kualitas air dan biodiversitas pun penting dilakukan untuk mengantisipasi kerusakan ekosistem.
Telaga Dringo kini tak lagi sekadar danau alami di ketinggian, melainkan laboratorium alam yang merekam dinamika hubungan manusia dan lingkungan. Keindahan alaminya adalah anugerah, tetapi juga amanah yang menuntut tanggung jawab. Dengan kolaborasi antara ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan kearifan lokal, Dringo berpeluang menjadi contoh bagaimana ekosistem pegunungan tetap lestari di tengah geliat pariwisata. (Furkhan W/Koresponden Banjarnegara)



