Wednesday, September 30, 2026
POJOK MILENIAL
Indonesiabuzz.com
  • Terbaru
  • Terpopuler
  • Topik Pilihan
No Result
View All Result
Indonesiabuzz.com
No Result
View All Result
Home Humaniora Historia

Soekarno dan NASAKOM: Antara Cita-Cita Persatuan dan Realitas Konflik

Upaya merajut tiga kekuatan besar menjadi satu kerangka kekuasaan berakhir jadi ledakan 1965.

by Redaksi IndonesiaBuzz
September 19, 2025
Reading Time: 4 mins read
Soekarno dan NASAKOM: Antara Cita-Cita Persatuan dan Realitas Konflik

(Ilustrasi: IB)

IndonesiaBuzz: Historia – Dua puluh lima tahun pasca-Kemerdekaan, Indonesia masih didera perpecahan politik. Soekarno lalu meramu ide NASAKOM: Nasionalisme, Agama, Komunisme, sebagai upaya “merajut” semua aliran besar.

Gagasan ini mulai muncul Februari 1956 ketika Bung Karno mengkritik demokrasi parlementer yang dianggap kacau dan kapitalis. Ia mengusulkan kabinet “gotong-royong” yang mewakili ketiga pilar itu.

Melalui dukungan militer, Sukarno menegaskan Demokrasi Terpimpin dan berjanji menyertakan semua faksi penting, termasuk PKI, dalam pemerintahan.

Demokrasi Terpimpin dan Penerapan NASAKOM

Lima Juli 1959, setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Bung Karno resmi mempraktikkan Demokrasi Terpimpin dengan NASAKOM sebagai ideologi negara. Ketika itu Pancasila dan UUD 1945 tetap dijunjung, tapi sehari-hari politik didorong oleh “tiga pilar” tersebut. Soekarno bahkan menegaskan bahwa siapa pun yang setuju pada Pancasila dan UUD 1945 harus menyetujui NASAKOM.

BeritaTerkait

Kraton Surakarta Gelar Kirab Malam Selikuran, Padukan Ritual, Budaya, dan Syiar Islam

Sadranan Kajoran Jadi Simbol Sinergi Warga dan Karaton Surakarta

Di tangan Soekarno, PKI diangkat ke posisi tinggi: Ketua PKI DN Aidit menjadi Wakil Ketua MPRS dan partainya memperoleh 17–25% kursi DPR Gotong Royong. Semua media dan institusi disulap menjadi “alat revolusi” untuk menyosialisasikan NASAKOM.

Namun praktik NASAKOM segera menimbulkan reaksi keras. Pencampuran unsur berseberangan itu memang awalnya tampak kompromistis, tetapi sejatinya sarat kepentingan masing-masing golongan.

Sebagai manifesto politik, Manipol/USDEK yang memuat nilai-nilai Demokrasi Terpimpin pun disahkan bersama NASAKOM pada sidang MPRS 1960, menunjukkan seberapa jauh Soekarno mencoba melegitimasi gagasannya secara resmi.

Soekarno dan NASAKOM: Antara Cita-Cita Persatuan dan Realitas Konflik
Presiden Soekarno saat berorasi (Foto: Istimewa)

Tanggapan Golongan Nasionalis

Di kalangan nasionalis, tanggapan beragam. Partai Nasional Indonesia (PNI), mesin politik Soekarno sendiri, awalnya mendukung gagasan ini. Setelah Soekarno kembali dari Tiongkok akhir 1956, PNI termasuk yang menyambut program konsepsi baru itu, sedangkan Partai Islam terbesar (Masyumi) dan Partai Sosialis Indonesia menolaknya.

PNI bahkan diberi tugas membentuk kabinet gotong royong pada 1957. Namun, dinamika sesungguhnya rumit. Sebagian besar kekuatan tentara (TNI-AD) mulai merasa kuatir. Pada tahun 1957, Panglima Angkatan Darat Nasution memberlakukan darurat militer, dan ABRI giat membentuk kelompok fungsional sendiri untuk memperkuat posisi korpsnya. Militer juga mengekang kegiatan PKI dan tokoh politik yang dianggap korupsi.

Keberpihakan Soekarno pada PKI membuat aparat TNI-AD merasa terancam; dalam waktu singkat timbul persaingan antara tentara dan komunis. Faktanya, Aliansi TNI-AD dengan mantan aktivis Masyumi dan PSI mulai terbentuk di akhir 1960-an, meredam dominasi Soekarno di Pemerintahan Besar Revolusi.

Tanggapan Kelompok Agama

Di pihak agama, dukungan pun tak seragam. Nahdlatul Ulama (NU) memilih ikut dalam aliran NASAKOM, dengan alasan menjaga moderasi nasional. Ulama NU seperti KH. Abdul Wahab Chasbullah bergabung dalam Dewan Pertimbangan Agung agar bisa mengimbangi dominasi PKI dari dalam sistem.

Pilihan NU ini memicu kontroversi: NU dituduh oportunis bahkan dicemooh sebagai “Kiai NASAKOM” oleh kalangan Islam konservatif. Sementara itu Partai Masyumi – poros Islam modern – menolak keras NASAKOM. Masyumi menolak bergabung dengan kabinet gotong royong dan terus kritis terhadap PKI.

Akhirnya Soekarno membubarkan Masyumi (dan juga PSI) pada 1960 dengan dalih telah menyimpang dari “garis Nasakom” yang diinginkan pemerintah. Dengan bubarnya Masyumi, kekuatan politik berbasis Islam merosot drastis.

Peran PKI dan Golongan Komunis

Partai Komunis Indonesia malah mendapat keuntungan terbesar. Gagasan Nasakom memberi mereka penerimaan resmi di pemerintahan. Dalam lima tahun, PKI tumbuh menjadi kekuatan politik utama. Dari perkiraan 165 ribu anggota pada 1954, jumlahnya melonjak menjadi jutaan menjelang 1960-an.

Kepemimpinan Soekarno bersimpati pada PKI: semakin banyak kader PKI diangkat dalam struktur negara, dan Aidit bertetangga erat dengan Presiden. Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) baru yang dibentuk 1960 dipenuhi fungsionaris PKI, diperkirakan menguasai sekitar 17–25% kursi.

NASAKOM memang disosialisasikan sebagai bentuk implementasi Pancasila, namun di balik itu PKI merasa terlindungi penuh oleh Soekarno.

Pertarungan Ideologi dan Krisis Akhir NASAKOM

Alih-alih menyatukan, NASAKOM justru memperuncing ketegangan antar golongan. Kepentingan nasionalis, Islam, dan komunis yang bertolak belakang memicu kecurigaan timbal balik. Golongan Islam takut ideologi komunis meniadakan Ketuhanan Yang Maha Esa, sementara militer curiga PKI hendak merebut kekuasaan.

Konflik mulai meletus: rentetan aksi kekerasan terjadi antara kader PKI dan pendukung NU maupun tokoh PNI selama awal 1960-an. Perlawanan militer terhadap dominasi komunisme kian keras di tengah krisis ekonomi dan konfrontasi Malaysia.

Di ujung 1965, ketidakseimbangan kekuatan NASAKOM memuncak. PKI dipandang terlalu berkuasa, militer merasa terpojok. Gesekan akhirnya berujung tragedi 30 September 1965. Gerakan tersebut menewaskan para jenderal AD dan mengguncang tatanan politik.

Pasca-G30S, reputasi Soekarno dan NASAKOM hancur. Nasakom dituduh sebagai dalang tragedi; kepercayaan publik kepada Soekarno runtuh. Militer lalu mengambil alih kendali, Soeharto mendapat Surat Perintah 11 Maret 1966, dan Orde Lama berakhir.

Era NASAKOM pun kandas: gagasan yang digadang sebagai simbol persatuan justru berakhir “berstatus biang kerok” pembuka jalan bagi tragedi dan kejatuhan Soekarno.

Nasakom meninggalkan pelajaran pahit bagi politik Indonesia. Di satu sisi ini menunjukkan betapa Soekarno berusaha merangkul perbedaan ideologi dalam kerangka Pancasila. Namun di sisi lain, kegagalannya mengimbangi kekuatan masing-masing golongan memperlihatkan sejauh mana kompromi politik bisa rapuh jika realitas di lapangan diabaikan.

Mimpi persatuan tiga pilar NASAKOM hanyalah ilusi di tengah kenyataan konflik ideologis yang justru terus mengemuka hingga krisis 1965. @indonesiabuzz

Tags: G30S/PKIHistoriaKesaktian PancasilaNasakomPeristiwa 1965pkisejarahsoekarno
Share227SendScan

Trending

KPK Geledah Rumah Maidi dan Anaknya, Telusuri Aliran Uang Kasus TPPU
News

KPK Geledah Rumah Wali Kota Madiun Nonaktif Maidi dan Anaknya, Telusuri Aliran Uang Kasus TPPU

3 hours ago
Wonogiri Naikkan Status Darurat Kekeringan dan Karhutla, Siapkan BTT Rp337 Juta
News

Wonogiri Naikkan Status Darurat Kekeringan dan Karhutla, Siapkan BTT Rp337 Juta

3 hours ago
48 Petahana Diperkirakan Kembali Bertarung dalam Pilkades Serentak Wonogiri 2026
News

48 Petahana Diperkirakan Kembali Bertarung dalam Pilkades Serentak Wonogiri 2026

5 hours ago
PN Jaksel Tolak Praperadilan Silmy Karim, Penetapan Tersangka oleh KPK Dinyatakan Sah
News

PN Jaksel Tolak Praperadilan Silmy Karim, Penetapan Tersangka oleh KPK Dinyatakan Sah

6 hours ago
Jubir KPK Budi Prasetyo Diperiksa Polda Metro Jaya, Dicecar 50 Pertanyaan
News

Jubir KPK Budi Prasetyo Diperiksa Polda Metro Jaya, Dicecar 50 Pertanyaan

6 hours ago
Indonesiabuzz.com

TERBARU

KPK Geledah Rumah Maidi dan Anaknya, Telusuri Aliran Uang Kasus TPPU

KPK Geledah Rumah Wali Kota Madiun Nonaktif Maidi dan Anaknya, Telusuri Aliran Uang Kasus TPPU

September 30, 2026
Wonogiri Naikkan Status Darurat Kekeringan dan Karhutla, Siapkan BTT Rp337 Juta

Wonogiri Naikkan Status Darurat Kekeringan dan Karhutla, Siapkan BTT Rp337 Juta

September 29, 2026

TERPOPULER

KPK Sita Sawah 1.938 Meter Persegi di Ngawi, Pasang Papan Penyitaan

Diskusi Publik KY, PB XIV Ungkap Sejarah Peradilan Kraton

DPRD Ngawi Turun Lapangan di Tiga Pilar Cup 2026, Tekankan Dukungan untuk Persinga

350 Prajurit Yon Armed 12 Kostrad Pulang dari Pamtas RI-RDTL

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Hubungi Kami
  • Sitemap

Copyright © 2022-2023, IndonesiaBuzz.com. All rights reserved.

No Result
View All Result
  • Home
  • Buzz
  • Halo Indonesia
  • News
    • Ekonomi & Bisnis
    • Hukum & Kriminal
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Kemasyarakatan
  • Tokoh
  • Entertainment
    • Hiburan
    • Selebritis
  • Humaniora
    • Budaya
    • Historia
    • Sastra
    • Inspirasi
  • Lifestyle
    • Fashion
    • Finansial
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Otomotif
    • Relationship
    • Sport
    • Teknologi
    • Wanita
  • Sudut Pandang
    • Celoteh
    • Kata Pakar
    • Opini
  • Travel & Staycation
  • Pojok Milenial
  • Foto

Copyright © 2022-2023, IndonesiaBuzz.com. All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In