IndonesiaBuzz: Urban Culture – Fenomena maskulinitas di era modern kerap jadi sorotan. Tak sedikit yang sibuk mengejar citra “jantan” lewat gaya hidup, penampilan, dan gengsi, namun lupa arti mendasar dari menjadi laki-laki sejati: tanggung jawab, integritas, dan keberanian menghadapi hidup.
Media sosial turut memperkuat fenomena ini. Label “macho” sering dikaitkan dengan fisik dan simbol semu: otot dipamerkan, pakaian branded dijadikan standar, hingga gaya hidup hedon seolah jadi ukuran kejantanan. Padahal, esensi jadi laki-laki bukan di sana, melainkan pada karakter dan konsistensi dalam menjalani peran sosial.
Sindiran “sibuk cari jantan, lupa jadi laki-laki” hadir sebagai kritik pedas. Banyak yang berisik soal citra, tapi absen ketika bicara soal komitmen. Mereka bisa menghabiskan energi untuk pencitraan di depan kamera, namun gagap ketika diminta sekadar menepati janji. Gagah di luar, rapuh di dalam.
Di sisi lain, ada pula fenomena toxic masculinity yang makin marak: laki-laki dipaksa selalu terlihat kuat, padahal lemah dalam mengelola emosi. Bukannya jadi pelindung, justru jadi beban bagi lingkungannya. Sementara itu, laki-laki sejati seharusnya bukan sekadar tampil garang, tapi berani memikul tanggung jawab, jujur dalam bersikap, dan konsisten pada peran yang dijalani.
Jangan sampai kejantanan berhenti pada citra. Sebab pada akhirnya, topeng macho tanpa integritas hanya akan runtuh ketika berhadapan dengan kenyataan. Laki-laki sejati bukan soal label, tapi tentang kualitas hidup yang nyata dan bisa dirasakan orang lain. (Red-)







