IndonesiaBuzz : Pacitan, 13 Februari 2026 – Perayaan Hari Jadi ke-281 Kabupaten Pacitan diwarnai kegiatan membatik massal yang digelar SMP Negeri 1 Tegalombo.
Aksi canting bersama ini melibatkan ratusan siswa, guru, dan staf sebagai upaya memperkenalkan Batik Kemuning sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal.
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah tersebut menjadi bagian dari peringatan hari jadi daerah dengan fokus pada pelestarian tradisi.
Selain mengenalkan batik khas, aktivitas ini juga diarahkan untuk memperkuat nilai budaya di kalangan generasi muda.
Acara dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan Khemal Pandu Pratikna bersama Kepala Bidang Pembinaan SMP Fandi Normansyah, Camat Tegalombo Edi Wasana, serta Koordinator Pengawas sekolah setempat.
Para pejabat yang hadir turut membaur bersama siswa dan tenaga pendidik dengan ikut menggoreskan canting di atas kain mori.
Kehadiran unsur pemerintah daerah dan Muspika menjadi bentuk dukungan terhadap gerakan pelestarian budaya yang diinisiasi sekolah.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan peran dunia pendidikan dalam menjaga tradisi lokal tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Motif yang digunakan dalam kegiatan tersebut adalah Batik Kemuning yang dikembangkan sebagai identitas sekolah. Kepala SMPN 1 Tegalombo, Subroto, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa desain tersebut terinspirasi dari kondisi geografis sekitar.
“Pola batik kemuning ini sengaja kami ciptakan dengan filosofi geografis, mengingat SMPN 1 Tegalombo berada di Desa Kemuning,” ujar Subroto.
Ia menambahkan, sekolah juga tengah memproses pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) atas motif Batik Kemuning sebagai bentuk keseriusan dalam mengembangkan karya tersebut.
Kepala Dinas Pendidikan Pacitan, Khemal Pandu Pratikna, mengapresiasi inisiatif sekolah yang menggelar kegiatan membatik massal dalam momentum hari jadi daerah.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak hanya berhenti sebagai acara seremonial tahunan.
“Harapan saya, ini bisa dijadikan wadah oleh sekolah untuk melakukan pengembangan usaha pelestarian budaya sekaligus melatih murid berwirausaha,” tegas Khemal.
Ia juga berharap karya yang dihasilkan siswa memiliki nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh masyarakat.
“Semoga Batik Kemuning ini dilirik pihak luar, dibeli masyarakat umum, atau digunakan untuk seragam dan baju pribadi,” pungkasnya. (@Arn)







