IndonesiaBuzz: Solo 10 Juni 2025 — Selama tiga hari, mulai Senin hingga Rabu (9–11 Juni 2025), Kota Solo menjadi tuan rumah pertemuan istimewa ratusan diaspora Jawa dari berbagai belahan dunia berkumpul dalam acara bertajuk Sambung Rasa, sebuah forum budaya yang tak sekadar menyatukan individu, namun juga menggugah kembali akar leluhur yang telah lama ditinggalkan.
Dihadiri sekitar 100 hingga 150 peserta, komunitas ini terdiri atas diaspora Jawa dari Suriname, Kaledonia Baru, Belanda, Singapura, hingga Malaysia. Menurut Penasihat Komunitas Diaspora Jawa, KPH Wironegoro, pertemuan semacam ini telah menjadi tradisi rutin yang berlangsung dua tahunan, selalu digelar di Pulau Jawa sebagai tanah leluhur yang menyimpan kisah dan identitas para peserta.
“Ini bukan sekadar pertemuan, tetapi sebuah perjalanan spiritual dan kebudayaan. Di sini mereka mencari jejak leluhur, menyambung kembali silsilah yang mungkin telah tercerai, dan belajar kembali tentang siapa diri mereka sebagai orang Jawa,” ujar KPH Wironegoro, Senin (9/6/2025).
Agenda di Solo mencakup kegiatan kongres komunitas, kunjungan ke Keraton Surakarta untuk mempelajari tradisi pembuatan jamu dan falsafah kesehatan dalam budaya Jawa, serta sesi interaktif di Javanology UNS Solo. Di sana, para peserta akan mengeksplorasi potensi kerja sama bisnis, membuka wacana tentang galeri Diaspora Jawa, hingga bermain permainan tradisional sebagai media pelestarian budaya.
Perjalanan berlanjut ke Yogyakarta pada 12–14 Juni 2025. Di kota budaya ini, para diaspora akan mendalami seni arsitektur rumah Jawa, belajar unggah-ungguh serta suba-sita bersama Sri Sultan Hamengku Buwono X, dan menggali makna filosofis kehidupan Jawa yang tersirat dalam konsep sangkan paraning dumadi.
“Solo dan Jogja dipilih bukan tanpa alasan. Dua kota ini merupakan poros utama kebudayaan Jawa dengan eksistensi dua keraton: Kasunanan dan Kasultanan. Di sinilah nilai-nilai adiluhung diwariskan secara turun temurun,” imbuh KPH Wironegoro, menantu Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Ia juga mengungkapkan tantangan yang dihadapi dalam menyelenggarakan kegiatan ini, mulai dari keberagaman latar belakang budaya hingga keterbatasan bahasa. Banyak peserta adalah generasi kelima, yang sebagian bahkan sudah kehilangan jejak asal usul keluarga di tanah Jawa.
“Namun semangat mereka luar biasa. Meski sebagian besar hanya bisa berbahasa Jawa ngoko, semangat untuk menyatu dan memahami budaya leluhur tidak pernah pudar,” katanya.
Kegiatan ini juga diharapkan mendapat dukungan dari pemerintah daerah, mengingat dampaknya tidak hanya pada pelestarian budaya, tetapi juga pada sektor ekonomi. Para diaspora diperkirakan akan tinggal di Indonesia selama sebulan, di luar rangkaian acara resmi, dan secara aktif berkontribusi dalam sektor pariwisata, perhotelan, dan UMKM.
Co-Founder Komunitas Diaspora Jawa Internasional, Jakiem Asmowidjojo, menegaskan pentingnya menjaga jalinan persaudaraan antardiaspora yang tersebar di berbagai negara.
“Bareng-bareng, ayo ndelok ngarep nyambung paseduluran kerja bareng, lan mbangun masa depan bebarengan ing ngendi tukar kawruh, ijol kabudayan, lan gotong royong dadi dhasaré,” ujarnya dalam pernyataan tertulis. Ia menegaskan bahwa setiap orang Jawa harus mengenal siapa dirinya, dari mana asalnya, dan bagaimana menjalani hidup sesuai nilai luhur warisan budaya.
Dari agenda Sambung Rasa kali ini, delapan hasil utama ditargetkan, antara lain, program pertukaran budaya, dokumentasi dan penelitian sejarah, kontribusi ekonomi sosial melalui investasi dan transfer pengetahuan, hingga peneguhan identitas kolektif diaspora Jawa dalam kancah globa




