IndonesiaBuzz; Yogyakarta, 13 September 2025 – Gelaran Pencak Malioboro Festival (PMF) ke-8 tahun 2025 kembali menjadi ajang unjuk kebolehan perguruan pencak silat dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya adalah Perguruan Pencak Silat Gondo Wulung dari Pagar Nusa Tegal Istighfar, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yang tampil memukau lewat koreografi kolaboratif antara pencak Mataram dan pencak Jawa Timuran.
Dalam pertunjukan yang digelar di kawasan Malioboro di hari pertama, Jumat (13/9/25), Pelatih Gondo Wulung, Soegeng Kingkang, memimpin langsung para pesilatnya. Ia menghadirkan koreografi yang bukan hanya menonjolkan teknik beladiri, tetapi juga sarat dengan pesan sejarah dan makna kebersamaan.
Soegeng menjelaskan, koreografi yang ditampilkan terinspirasi dari prajurit Kraton Surakarta Hadiningrat. Ia mengangkat kisah tentang sebuah divisi prajurit atau bregada yang dilanda konflik internal. Dalam alur tersebut, ditampilkan adegan perpecahan di antara para prajurit hingga menimbulkan pertarungan. Namun, di balik konflik yang keras itu, terdapat pesan perdamaian. Kepala divisi prajurit digambarkan tidak melepaskan prajurit yang membangkang, melainkan merangkulnya kembali dan menyatukannya ke dalam barisan prajurit.
“Penampilan ini kami rancang bukan sekadar untuk menghibur, tetapi juga sebagai cerminan filosofi pencak silat yang menjunjung nilai persatuan. Bahwa setiap konflik bisa diselesaikan dengan cara merangkul, bukan memisahkan,” terang Soegeng usai penampilan.
Koreografi tersebut mendapat perhatian dari penonton karena mampu menggabungkan dua gaya pencak yang berbeda. Pencak Mataram dikenal halus, penuh wiraga dan wirama, sementara pencak Jawa Timuran lebih keras, tegas, dan berirama cepat. Kolaborasi ini membuat alur cerita semakin hidup dengan variasi gerakan yang dinamis.
Menurut Soegeng, keikutsertaan Gondo Wulung dalam PMF ke-8 bukan hanya untuk menunjukkan keterampilan teknis, tetapi juga sebagai upaya menjaga kelestarian budaya. Pencak silat, kata dia, adalah warisan leluhur yang harus terus diwariskan kepada generasi muda, baik sebagai seni beladiri maupun sebagai media pendidikan karakter.
“Kami berharap ke depan pencak silat tetap lestari. Bukan hanya di arena festival, tetapi juga tumbuh di masyarakat, menjadi bagian dari pendidikan, dan terus menyatu dengan kehidupan sehari-hari,” tambahnya.
Pencak Malioboro Festival sendiri sudah memasuki tahun kedelapan penyelenggaraannya. Acara tahunan ini tidak hanya menampilkan atraksi beladiri, tetapi juga menegaskan posisi pencak silat sebagai warisan budaya tak benda Indonesia yang diakui UNESCO. Kehadiran berbagai perguruan dari lintas daerah diharapkan dapat mempererat silaturahmi, sekaligus memperkaya khazanah seni tradisi nusantara.
Dengan hadirnya Gondo Wulung di PMF 2025, nilai-nilai sejarah, seni, dan filosofi pencak silat kembali diperkuat di tengah masyarakat luas. Penampilan tersebut menjadi bukti bahwa pencak silat bukan sekadar seni beladiri, melainkan juga media penyampai pesan persatuan dan harmoni. (Nem)







