IndonesiaBuzz: Jakarta, 17 Juni 2025 — Di tengah dunia kerja yang semakin kompetitif, ada satu kalimat pahit yang sering terdengar tapi jarang dibicarakan secara terbuka “Yang cerdas belum tentu naik, yang kenal orang dalam yang lebih cepat melesat.” Ungkapan ini mungkin terdengar sinis, tapi sayangnya, masih sangat relevan.
Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa kerja keras dan kecerdasan akan membuka pintu kesuksesan. Tapi di balik layar dunia profesional, relasi, koneksi, dan jaringan personal sering kali menjadi jalur pintas paling efektif.
“Banyak dari kita dididik untuk percaya pada meritokrasi. Tapi di dunia nyata, sistem kadang lebih menghargai loyalitas personal daripada kapabilitas objektif,” ujar Putri Andini, praktisi HR dan konsultan karier.
Tak sedikit yang merasa putus asa setelah melihat rekan kerja yang biasa-biasa saja justru naik jabatan lebih dulu—hanya karena “dekat dengan atasan”.
Bukan berarti semua bentuk koneksi itu buruk. Dalam dunia profesional, membangun relasi memang bagian dari strategi karier. Networking bisa membuka pintu yang tidak bisa dibuka hanya dengan CV atau ijazah. Tapi masalah muncul ketika koneksi menjadi satu-satunya alasan seseorang diprioritaskan—terlepas dari kemampuan.
“Kalau yang diutamakan hanya yang ‘dekat’ dengan atasan, maka ruang bagi mereka yang bekerja keras jadi sempit. Ini bukan hanya tidak adil, tapi juga bisa menurunkan moral tim,” kata Erick Satrio, manajer di perusahaan startup teknologi.
Orang cerdas, pekerja keras, dan berintegritas sering kali tidak vokal atau tidak pandai membangun kedekatan sosial. Akibatnya, mereka tertinggal secara karier, meskipun kontribusinya nyata. Di sisi lain, mereka yang tahu bagaimana ‘menjual diri’ dan membangun citra—meski secara teknis biasa saja—lebih cepat dikenali.
Masalahnya bukan sekadar “siapa lebih hebat”, tapi siapa yang lebih dekat dan lebih terlihat.
Budaya “orang dalam” bisa dikurangi jika perusahaan punya sistem penilaian yang transparan, objektif, dan berbasis hasil kerja, bukan relasi. Leadership yang sehat akan menilai berdasarkan kinerja dan potensi, bukan koneksi personal.
Di sisi lain, untuk individu cerdas dan berintegritas—jangan alergi pada networking. Bangun relasi bukan berarti menjilat, tapi memperluas pengaruh secara sehat. Karena kadang, kesempatan bukan datang ke yang paling pintar, tapi ke yang paling siap dan paling dikenal.







