IndonesiaBuzz : Madiun, 14 Oktober 2026 – Pemerintah Kabupaten Madiun meluncurkan program Kredit Tanpa Agunan (KRETA) bersama Bank Madiun untuk memperluas akses permodalan bagi petani milenial. Hingga peluncuran program di Pendopo Muda Graha, Selasa (13/10/2026), sebanyak 80 permohonan pembiayaan telah terverifikasi melalui dua perangkat daerah terkait.
Program dengan fasilitas pembiayaan tanpa agunan dan subsidi bunga tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkab Madiun mendukung agenda Petani Peternak Sejahtera (PPS), sekaligus memperkuat kapasitas usaha dan mendorong modernisasi sektor pertanian.
Bupati Madiun H. Hari Wuryanto mengatakan, keterbatasan modal masih menjadi salah satu kendala yang dihadapi petani muda dalam mengembangkan usaha. Karena itu, pemerintah daerah berupaya memperluas akses pembiayaan agar petani milenial memiliki kesempatan lebih besar untuk meningkatkan skala usahanya.
“Biasanya kendala petani milenial adalah modal. Karena itu, pemerintah daerah berupaya memberikan dukungan agar mereka memiliki semangat dan kemampuan lebih besar untuk mengembangkan usaha,” ujarnya.
Dari total 80 permohonan yang telah terverifikasi, sebanyak 66 permohonan berasal dari Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Madiun, sedangkan 14 permohonan lainnya melalui Dinas Pertanian dan Perikanan.
Peluncuran KRETA dirangkaikan dengan peringatan Hari Pangan Sedunia 2026 dan sarasehan bertema “Petani Milenial Siap Berinovasi dan Berkolaborasi Menuju Kabupaten Madiun Bersahaja”.
Kegiatan yang diselenggarakan DKPP Kabupaten Madiun tersebut diikuti 250 peserta, terdiri atas petani milenial, penyuluh pertanian, gabungan kelompok tani (Gapoktan), kelompok wanita tani (KWT), pelaku usaha, serta organisasi di sektor pertanian.
Selain membuka akses pembiayaan, Pemkab Madiun mendorong petani meningkatkan produktivitas hasil panen, mengembangkan produk olahan, dan memperluas akses pemasaran.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat nilai tambah hasil pertanian sekaligus meningkatkan pendapatan petani.
Produktivitas padi di Kabupaten Madiun saat ini rata-rata mencapai 6,8–7,2 ton per hektare. Pemerintah daerah menargetkan peningkatan menjadi 9–10 ton per hektare melalui penerapan inovasi, pemanfaatan teknologi, dan penguatan kolaborasi antarpelaku sektor pertanian.
Wakil Bupati Madiun dr. Purnomo Hadi menekankan pentingnya keterbukaan petani terhadap perkembangan teknologi dan digitalisasi untuk meningkatkan efisiensi usaha tani.Ia mendorong pemanfaatan pesawat nirawak atau drone untuk penyemprotan tanaman serta pengembangan lahan percontohan (demplot) pertanian organik.
Demplot diharapkan menjadi sarana penerapan praktik budidaya, mulai dari penggunaan benih berkualitas dan pemupukan yang tepat hingga pengendalian hama.Dalam sarasehan tersebut, Mustafa, Ketua Paguyuban Padi Organik Barokah dari Semarang, bersama narasumber di bidang pertanian modern berbagi pengalaman mengenai pengembangan beras organik dan pemanfaatan drone dalam kegiatan pertanian.
Kepala DKPP Kabupaten Madiun Paryoto mengatakan, pertanian organik berpotensi meningkatkan pendapatan petani karena memiliki segmen pasar khusus.
Namun, pengembangannya memerlukan pemenuhan standar produksi, pendampingan penyuluh, dan kelembagaan yang kuat.
“Pertanian organik menjadi salah satu solusi bagi petani untuk meningkatkan pendapatan karena memiliki segmen pasar khusus dengan nilai jual lebih tinggi. Namun, pengembangannya harus memenuhi standar organik yang ditetapkan, mulai dari pengelolaan lahan, pengairan, penggunaan pupuk hingga sarana produksi. Karena itu, diperlukan pendampingan penyuluh dan penguatan kelembagaan, termasuk melalui BUMDes, agar perluasan pertanian organik di Kabupaten Madiun dapat berjalan berkelanjutan,” pungkas Paryoto.
Melalui KRETA dan penguatan inovasi pertanian, Pemkab Madiun mendorong petani milenial tidak hanya memiliki akses permodalan, tetapi juga mampu meningkatkan produktivitas, mengembangkan produk bernilai tambah, dan memperluas pasar hasil pertanian. (@Arn/Tim)







