IndonesiaBuzz: Jakarta, 18 Januari 2024 – Pemilu 2024 menunjukkan dinamika yang berbeda bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor konveksi. Sebuah laporan dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) mengungkapkan bahwa para pengusaha konveksi, yang biasanya mendapat pesanan besar selama Pemilu, menghadapi tantangan serius dengan penurunan omzet mencapai 90 persen dibandingkan Pemilu 2019.
Menurut Deputi Bidang Usaha Mikro Kemenkop UKM, Yulius, dalam konferensi pers pada Senin pekan lalu, penjualan produk untuk keperluan kampanye mengalami penurunan signifikan, berkisar antara 40-90 persen. Observasi langsung dilakukan di Pasar Jaya Tanah Abang dan Pasar Jaya Senen di DKI Jakarta, serta wawancara dengan 15 pelaku UMKM konveksi.
Meskipun dana kampanye partai politik (parpol) mencapai ratusan miliar, terdapat ketidaksesuaian dengan dampak yang diterima oleh UMKM konveksi. PDIP, parpol dengan penerimaan terbesar, mencatat total penerimaan Rp183 miliar dan pengeluaran Rp115 miliar. Sementara Partai Bulan Bintang (PBB) dengan penerimaan terkecil hanya Rp301 juta dan pengeluaran Rp228 juta.
Ketidaksesuaian ini dipertegas oleh analisis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita, yang menyebutkan bahwa fokus kampanye peserta pemilu pada media online, khususnya platform seperti TikTok dan Instagram, telah mengubah pola distribusi dana kampanye.
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyatakan bahwa konsep kampanye yang berubah, dengan lebih banyak menggunakan media sosial dan kurang menghadirkan euforia di lapangan, memberikan dampak negatif bagi UMKM konveksi. Model kampanye yang lebih berorientasi pada media digital mengurangi pesanan yang biasanya diterima UMKM konveksi saat kampanye terbuka di lapangan.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menambahkan bahwa adanya percetakan baliho dan alat peraga kampanye yang dikelola oleh perusahaan yang terafiliasi dengan timses dan partai, turut berkontribusi pada penurunan pesanan ke UMKM konveksi. Ia menekankan perlunya penyesuaian strategi dan perubahan dalam stok barang untuk menghadapi perubahan konsep kampanye yang semakin cenderung ke arah digital.
Dalam situasi ini, Bhima mengingatkan pelaku UMKM konveksi untuk tidak terlalu agresif dalam mengajukan kredit atau menyimpan stok barang di gudang. Sebagai antisipasi, perubahan strategi dan kesadaran terhadap perubahan konsep kampanye menjadi kunci untuk menjaga kelangsungan usaha di masa depan.@cinde







