IndonesiaBuzz: Boyolali, 27 September 2025 – Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI), Jenderal Agus Subiyanto, menegaskan target pembangunan 2.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sepanjang 2025. Pernyataan itu disampaikan saat mengunjungi SPPG Lanud Adi Soemarmo I, Ngesrep, Ngemplak, Boyolali, Jumat (26/9/25).
“TNI sudah mengoperasionalkan 113 SPPG dari awal. Barusan saya launching 339 SPPG yang ada di satuan setingkat batalyon, Kodim, Lanud, Lanal, Rindam, Korem. Kami berdayakan dapur yang sudah ada untuk mendukung program MBG [Makan Bergizi Gratis],” kata Agus.
Agus menambahkan, jumlah penerima manfaat di beberapa SPPG masih relatif rendah. Di Lanud Adi Soemarmo misalnya, terdapat dua SPPG, namun jumlah penerima manfaat belum mencapai 4.000 orang. Karena itu, rencananya satu SPPG akan memindahkan sebagian penerimanya ke wilayah lain.
“Kami alokasikan 2.000 SPPG, per tahap yang kami bangun. Bisa lebih dari 2.000. Saat ini sudah ada 452 SPPG yang tersebar dan beroperasi di seluruh Indonesia,” ujar Agus.
Menurut Agus, keberadaan SPPG juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Contohnya, tukang masak di SPPG Lanud berasal dari warga setempat. Selain itu, SPPG mendukung rantai pasok hasil pertanian, peternakan, dan perikanan melalui koperasi dan UMKM lokal.
“Ini juga membuka rantai pasok bagi petani, peternak, nelayan, dan UMKM. Mereka bisa menjual hasilnya ke koperasi Merah Putih, atau langsung ke SPPG untuk dimasak,” kata dia.
Tujuan utama MBG, kata Agus, adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.
Berdasarkan data Badan Gizi Nasional (BGN), hingga September 2025, program MBG telah menjangkau 29,8 juta penerima manfaat di 8.018 SPPG yang sudah beroperasi di seluruh Indonesia. Wakil Kepala BGN, Sony Sanjaya, mengatakan, dari 9.230 SPPG yang terverifikasi, 8.018 sudah operasional dan 1.212 sedang persiapan operasional.
“Seluruh verifikasi dilakukan secara transparan tanpa konflik kepentingan. Verifikator memeriksa lokasi, sertifikat kepemilikan, serta survei lapangan untuk memastikan kebersihan dan kelayakan SPPG,” kata Sony.
Proses verifikasi pun dipantau ketat: alamat yang disetujui ditandai hijau, sedangkan yang ditolak berwarna merah dengan keterangan alasan penolakan. Menurut Sony, mekanisme ini memastikan semua mitra mengetahui statusnya secara jelas dan akurat.
Dengan pembangunan dan pengawasan yang ketat, Agus berharap jumlah penerima manfaat MBG akan terus bertambah dan program ini mampu mendorong kesejahteraan masyarakat serta memperkuat kualitas gizi anak-anak Indonesia.(red)







