IndonesiaBuzz: Magetan, 4 Oktober 2025 – Musim panen biasanya identik dengan tawa petani dan derap sabit yang menghiasi sawah. Namun, di balik keriuhan itu, tersimpan kisah haru dari mereka yang hidup di pinggiran, seperti Kliwon (43), kuli bangunan asal Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, yang rela mengais bulir padi sisa panen demi bisa membawa pulang susu untuk anak-anaknya.
Ketika proyek bangunan sedang sepi, kehidupan Kliwon ikut terhimpit. Dua balitanya di rumah masih membutuhkan susu setiap hari. Tanpa uang cukup, ia tak punya pilihan lain selain ngasak mengumpulkan bulir padi yang tercecer di sawah setelah panen usai.
“Terpaksa ngasak ini untuk ngopeni anak. Masih kecil-kecil, butuh susu. Kalau enggak begini, ya enggak ada uang buat beli susu,” ungkap Kliwon lirih saat ditemui IndonesiaBuzz di sawah, Sabtu (4/10/25).
Bermodalkan karung kosong, ia sejak pagi menyusuri pematang sawah. Dalam lima hari penuh kerja keras, paling banter ia hanya bisa membawa pulang satu karung gabah. Bagi sebagian orang, bulir padi yang tercecer mungkin dianggap tak berarti. Namun, bagi Kliwon, setiap butir adalah rezeki yang bisa dimasak untuk makan sehari-hari atau dijual demi memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Kadang, ia harus berjalan jauh hingga ke wilayah Geger, Madiun, untuk mencari sawah yang baru dipanen. “Kalau sehat dan ada kerjaan, ya bangunan. Tapi kalau lagi sepi atau badan enggak kuat, ya balik ke sawah ngasak,” ujarnya pasrah.
Kisah ngasak bukan hanya milik Kliwon. Di sudut sawah lain, seorang nenek berusia 72 tahun dengan sabar mengumpulkan sisa bulir padi. Hidup menumpang di rumah keponakan, ia hanya mengandalkan gabah yang berhasil dikumpulkan untuk menambah isi periuk di rumah.
Meski kerap dipandang sebelah mata, bagi mereka ngasak (memungut sisa-sisa hasil panen yang tertinggal) bukan soal gengsi, melainkan cara untuk bertahan hidup. Ini demi memastikan ada makanan di meja, agar anak-anak tetap bisa minum susu, dan demi harapan bahwa esok hari akan lebih baik. (Agus Pujiono/Magetan)







