IndonesiaBuzz: News – Kontroversi terkait penataan visual Istana Garuda dan Istana Negara di Ibu Kota Nusantara (IKN) terus mengemuka. Sejumlah kalangan menilai tata letak sumbu-sumbu penting di kawasan tersebut tidak simetris secara visual. Meskipun berbagai sudut pandang muncul dari masyarakat, kajian feng shui terkait tata ruang di IKN belum banyak dibahas.
Dosen Feng Shui dan Arsitektur Universitas Tarumanagara, Sidhi Wiguna Teh, memberikan perspektifnya terkait elemen-elemen monumental dalam pembangunan IKN. Sidhi, yang pernah belajar dari Grand Master Yap Cheng Hai—seorang pakar feng shui terkemuka yang mengawasi pembangunan Putrajaya di Malaysia atas permintaan Mahathir Mohamad—mengungkapkan pentingnya penerapan prinsip feng shui dalam penataan IKN.
Pada tahun 2019, Sidhi dan timnya terlibat dalam sayembara desain IKN dengan nomor peserta 0654D, di mana mereka mengusulkan penerapan feng shui dalam penataan istana dan sumbu-sumbu penting lainnya. “Rencana pembangunan IKN sangat menarik, dan tentunya akan lebih baik jika kami dapat berpartisipasi,” ujarnya, Selasa (20/8/2024).
IKN, yang mencakup area seluas 256.142 hektar, dibagi menjadi Kawasan Pengembangan seluas 199.962 hektar, Kawasan IKN seluas 56.180 hektar, dan Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) seluas 6.596 hektar. Pembangunan ini mengusung delapan prinsip utama, termasuk desain sesuai kondisi alam, prinsip Bhinneka Tunggal Ika, konektivitas, rendah emisi karbon, dan efisiensi teknologi.
Menurut Sidhi, kondisi topografi di IKN yang berbukit memenuhi kriteria feng shui yang ideal, yaitu “bersandar gunung, memandang laut.” Sumbu Barat Laut dan Tenggara juga dianggap memenuhi prinsip naga hijau dan macan putih, yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan kharisma Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di mata dunia.
Sidhi menegaskan bahwa posisi Istana Garuda dan Istana Negara di dalam KIPP dapat diatur sedemikian rupa agar selaras dengan sumbu Barat Laut-Tenggara. Dengan dukungan bukit setinggi 300 meter di Barat Laut yang menghadap Teluk Balikpapan, tata letak ini dianggap ideal dalam feng shui untuk meningkatkan kualitas hidup dan kemakmuran.
Terkait kontroversi perancang Istana Garuda dan Istana Negara, Sidhi mengajak untuk menyikapi isu ini dengan bijak. Ia mencontohkan tokoh-tokoh terkenal seperti Frank Lloyd Wright dan Le Corbusier yang berhasil menciptakan karya arsitektur meski tidak memiliki latar belakang pendidikan arsitektur formal. “Kita harus fair dan membuka ruang introspeksi, terutama ketika seorang maestro patung seperti Nyoman Nuarta terpilih sebagai perancang,” tegasnya.
Sidhi juga menilai perdebatan terkait bentuk arsitektur istana sangat subjektif. Menurutnya, pro dan kontra selalu ada, sebagaimana prinsip yin-yang dalam filosofi feng shui. “Sebagai warga negara, saya optimistis dan berharap yang terbaik untuk NKRI dengan ibu kota baru dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045,” tutupnya. @wara-e







