IndonesiaBuzz: Surakarta, 18 Juni 2025 – Di bawah temaram lampu kota dan rindangnya pohon depan kantor Bank Indonesia, seorang pria berseragam hijau duduk menyandar. Motor matic yang sudah menemaninya ratusan kilometer terparkir diam. Ponsel di tangan menyala, mungkin menampilkan notifikasi pesanan yang tak kunjung datang. Tak ada meja, tak ada ruangan berpendingin udara. Hanya bangku beton dan harapan.
Inilah potret pekerja informal hari ini: menunggu dalam diam, bergerak jika dipanggil algoritma. Tanpa jaminan penghasilan pasti, tanpa kepastian jam kerja.
Di tengah gencarnya promosi pemerintah soal pertumbuhan ekonomi dan perluasan lapangan kerja, fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Tak semua warga bisa bekerja di kantor. Tak semua lulusan bisa duduk di balik meja. Banyak yang terdorong oleh keadaan untuk bergantung pada aplikasi dan kendaraan pribadi demi bertahan hidup.
“Mau kerja kantoran susah, saingan ketat, gaji juga nggak selalu layak. Ini yang ada, ya dijalani,” ujar salah satu pengemudi ojek daring yang ditemui Awak Media.
Padahal, pekerjaan informal seperti ini menyumbang sebagian besar tenaga kerja di Indonesia. Namun perlindungan terhadap mereka masih jauh dari ideal. Tidak ada tunjangan kesehatan, tidak ada upah minimum yang pasti, bahkan risiko kelelahan dan kecelakaan sering kali ditanggung sendiri.
Pemerintah kerap bicara soal ekonomi digital, namun lupa bahwa tulang punggung dari sistem itu adalah orang-orang seperti pria di bawah pohon ini yang hidupnya digerakkan bukan oleh kemajuan, tapi oleh kebutuhan.
Di balik layanan satu klik, ada manusia yang berjibaku dengan cuaca, waktu, dan ketidakpastian. Mereka bekerja bukan untuk kaya, tapi agar bisa bertahan sampai esok.







