Aku berjalan
di atas batu-batu yang tak pernah memberi arah
langit muram,
dan matahari enggan menyapaku dengan hangat.
Katanya, rumah itu tempat hati berpulang.
Tapi di mana pintu yang tak mengusir namaku?
Di mana dinding yang tak menguping luka?
Aku pulang, tapi asing.
Aku hidup, tapi digembok sunyi.
Tuhan…
jika Engkau masih mencatat langkah,
hitunglah jejakku yang hilang di lumpur kota,
di gang sempit penuh dusta.
Aku bukan nabi.
Aku bukan malaikat bersayap kebajikan.
Aku hanya anak yang dibuang kata,
dipelintir janji,
dan ditikam sejarah.
Dengarkan aku!
Aku tak butuh beduk yang bersuara palsu.
Tak perlu ceramah bersampul emas.
Aku butuh jawaban
tentang jalan pulang
yang tak pernah diajarkan oleh guru
yang lebih sibuk menulis absen dari pada mendengar tangis.
Ini puisiku,
bukan untuk pujian.
Ini lolongku,
bukan untuk panggung.
Ini hidupku,
yang tidak kalian ajarkan
tapi tetap kupikul, sampai remuk tulang-tulang.







