IndonesiaBuzz: Historia – Keraton Surakarta Hadiningrat, juga dikenal sebagai Keraton Surakarta, merupakan istana resmi Kesunanan Surakarta Hadiningrat yang berlokasi di Kota Surakarta, Jawa Tengah.
Didirikan oleh Sri Susuhunan Pakubuwana II sekitar tahun 1743-1744, keraton ini menjadi pengganti Keraton Kartasura yang hancur akibat Geger Pecinan pada tahun 1743. Dengan arsitektur yang memukau dan kekayaan sejarahnya, Keraton Surakarta menjadi salah satu daya tarik utama di Kota Surakarta.
Sejarah Keraton Surakarta
Pembangunan dan Perpindahan Ibukota:
Pada tahun 1742, Sri Susuhunan Pakubuwana II memimpin Mataram ketika terjadi perang besar yang menyebabkan keruntuhannya. Kota Kartasura, ibu kota saat itu, mengalami kerusakan parah akibat serbuan orang Tionghoa yang didukung oleh kelompok Jawa anti VOC. Sri Susuhunan Pakubuwana II, yang telah mengungsi ke Ponorogo, memutuskan untuk membangun istana baru sebagai ibu kota Mataram.
Untuk menemukan lokasi yang tepat, Sri Susuhunan Pakubuwana II memerintahkan Tumenggung Hanggawangsa, Tumenggung Mangkuyudha, dan komandan pasukan Belanda, J.A.B. van Hohendorff. Mereka menemukan lokasi yang strategis sekitar 20 km ke arah tenggara dari Kartasura, tepatnya di Desa Sala, yang kemudian diubah namanya menjadi Surakarta Hadiningrat. Pembangunan keraton dimulai, dan setelah selesai, istana ini dijadikan tempat resmi Kesunanan Surakarta.
Penyerahan Kedaulatan dan Perubahan Nama Desa:
Keraton Surakarta menjadi saksi bisu penyerahan kedaulatan Kesultanan Mataram kepada VOC pada tahun 1749. Setelah Perjanjian Giyanti pada tahun 1755, keraton ini dijadikan istana resmi Kesunanan Surakarta. Nama Desa Sala pun diubah menjadi Surakarta, yang mengandung makna “keberanian” dan “makmur”. Harapannya, Surakarta menjadi tempat di mana penghuninya selalu berjuang untuk kebaikan dan kemakmuran negara.

Arsitektur Keraton Surakarta
Keraton Surakarta merupakan contoh kemegahan arsitektur istana Jawa. Dirancang oleh Pangeran Mangkubumi, yang kemudian menjadi Sultan Hamengkubuwana I, pola bangunannya mirip dengan Keraton Yogyakarta. Meskipun dibangun secara bertahap, Keraton Surakarta mempertahankan pola dasar tata ruang yang sama sejak awal pembangunan.
Pembagian kawasan Keraton Surakarta mencakup berbagai kompleks, seperti Alun-Alun Lor/Utara, Pagelaran Sasana Sumewa, Siti Hinggil Lor/Utara, Kamandungan Lor/Utara, Sri Manganti Lor/Utara, Kedhaton, Kamagangan dan Sri Manganti Kidul/Selatan, Kamandungan Kidul/Selatan, serta Siti Hinggil Kidul/Selatan dan Alun-Alun Kidul/Selatan. Dikelilingi oleh baluwarti, dinding pertahanan tinggi, kompleks keraton ini menciptakan suasana yang magis dan monumental.
Keraton Surakarta Hari Ini
Setelah Kesunanan Surakarta resmi menjadi bagian Republik Indonesia pada tahun 1945, Keraton Surakarta tetap berfungsi sebagai tempat tinggal Sri Susuhunan dan keluarganya yang menjalankan tradisi kesunanan. Selain itu, keraton ini juga menjadi objek wisata utama di Kota Surakarta. Sebagian kompleks keraton terbuka untuk umum, termasuk museum yang menyimpan koleksi berharga milik kesunanan, seperti hadiah dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan alat musik gamelan.
Keraton Surakarta, dengan keindahan arsitektur dan keberlanjutannya sebagai tempat tradisional, mempertahankan daya tariknya hingga saat ini. Pengunjung dapat menikmati kemegahan balairung, lapangan, paviliun, dan koleksi museum yang menceritakan sejarah gemilang Kesunanan Surakarta. Dengan luas total mencapai 157 hektar, termasuk area Baluwarti, Alun-Alun Lor, Alun-Alun Kidul, Gapura Gladag, dan kompleks Masjid Agung Surakarta, keraton ini terus menjadi saksi bisu perkembangan sejarah Jawa.
Keraton Surakarta Hadiningrat adalah warisan berharga yang tidak hanya menjadi saksi bisu sejarah Mataram tetapi juga menyajikan keelokan arsitektur istana Jawa. Dengan terus menjalankan tradisi kesunanan, keraton ini tidak hanya menjadi tempat tinggal Sri Susuhunan tetapi juga tujuan wisata yang menarik bagi masyarakat umum. Keberlanjutan Keraton Surakarta sebagai cagar budaya menggambarkan kekayaan sejarah Indonesia yang perlu dijaga dan dihargai oleh generasi-generasi mendatang. @wartonagoro







