IndonesiaBuzz: Jambi, 3 September 2026 – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Batang Hari, Jambi, sepanjang Januari hingga 2 September 2026 telah menghanguskan lahan seluas 479,48 hektare. Lonjakan terbesar terjadi pada Agustus, ketika luas lahan terbakar mencapai 429 hektare.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang Hari, Sholihin, mengatakan luasan tersebut berdasarkan hasil pemantauan tim di sejumlah lokasi kejadian yang tersebar di beberapa kecamatan.
“Angka itu berdasarkan data dari sejumlah lokasi kejadian kebakaran yang tersebar di beberapa kecamatan,” kata Sholihin di Muara Bulian, Kamis (3/9/26).
Data BPBD menunjukkan luas lahan terbakar relatif rendah pada sebagian besar bulan sebelum kemudian melonjak tajam pada Agustus. Pada Januari tercatat 4,3 hektare lahan terbakar, Februari 1,6 hektare, Maret 13,7 hektare, April 2,6 hektare, dan Mei 0,8 hektare.
Memasuki Juni, luas lahan terbakar meningkat menjadi 8,6 hektare dan kembali naik pada Juli menjadi 16,2 hektare. Puncaknya terjadi pada Agustus dengan 429 hektare. Sementara pada September hingga 2 September, BPBD mencatat tambahan 3,5 hektare lahan terbakar.
Dampak karhutla tidak hanya terlihat dari luas lahan yang terbakar. Kabut asap juga mulai menjadi persoalan serius di wilayah Muara Bulian seiring meningkatnya konsentrasi partikulat halus atau PM2,5 di udara.
Hasil pengukuran UPTD Laboratorium Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Batang Hari menunjukkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) untuk parameter PM2,5 mencapai angka 176.
Kepala UPTD Laboratorium Lingkungan Kabupaten Batang Hari, Meyrina, mengatakan hasil pengukuran tersebut berlaku untuk periode 2 hingga 3 September 2026.
Dengan nilai ISPU 176, kualitas udara di Muara Bulian berada pada rentang 101–200 atau masuk kategori tidak sehat.
“Kondisi itu menunjukkan kualitas udara masih berpotensi memberikan dampak buruk terhadap kesehatan masyarakat,” ujar Meyrina.
Dalam pengukuran yang sama, suhu udara tercatat 28,6 derajat Celsius, kelembapan mencapai 66 persen, sedangkan tekanan udara berada di angka 1.009,3 milibar.
Meyrina mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak paparan udara tercemar, terutama kelompok yang sensitif terhadap pencemaran udara.
Warga diminta membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk. Masyarakat juga dianjurkan menggunakan masker pelindung untuk mengurangi risiko gangguan pada saluran pernapasan.
Kondisi kualitas udara yang berada dalam kategori tidak sehat menjadi perhatian seiring masih berlangsungnya kejadian karhutla di sejumlah wilayah Batang Hari.
Pemerintah daerah melalui BPBD dan instansi terkait terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kebakaran lahan dan kondisi lingkungan. Di sisi lain, masyarakat diharapkan turut meningkatkan kewaspadaan serta segera melaporkan apabila menemukan titik api untuk mencegah kebakaran meluas. @yudi







