IndonesiaBuzz: Budaya – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan optimisme besar bahwa Indonesia memiliki potensi untuk menjadikan budayanya mendunia dan mencapai popularitas global. Menurutnya, dengan perencanaan matang, sinergi antar pihak, dan pemanfaatan teknologi, budaya Indonesia bisa mencapai tingkat popularitas yang sama dengan budaya pop dari Jepang dan Korea Selatan.
“Jepang sukses mempopulerkan anime, manga, dan video game, sementara Korea Selatan memiliki ‘K-Wave’ melalui K-pop, drama, dan film. Itu semua mereka capai melalui proses panjang, lebih dari 20 tahun, dengan seleksi ketat, pelatihan keras, dan kerja sama berbagai pihak. Saya yakin kita juga bisa menciptakan ‘I-Wave’, gelombang budaya Indonesia, untuk dikenal di dunia internasional,” ungkap Fadli Zon, dilansir dari Antara, Kamis (6/12/2024).
Fadli menekankan bahwa Indonesia memiliki sejumlah modal penting, termasuk jumlah penduduk yang besar, mencapai 280 juta orang, serta generasi muda yang kreatif dan adaptif terhadap teknologi. Menurutnya, generasi baru ini sangat potensial karena mereka terbiasa dengan perdagangan digital, memiliki ide inovatif, dan mampu memanfaatkan teknologi terkini, termasuk kecerdasan buatan (AI).
“Saat ini kita memiliki potensi luar biasa untuk mengembangkan budaya Indonesia ke dunia, dengan mengandalkan kreativitas dan teknologi. Budaya kita tidak hanya akan disukai di dalam negeri, tetapi juga diakui dunia internasional,” kata Fadli.
Selain itu, Fadli menyoroti pentingnya forum dan platform untuk mempromosikan budaya Indonesia. Sebagai contoh, ia menyebut festival seperti Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) yang telah membuka peluang jaringan internasional dengan partisipasi hampir 100 pameran dari berbagai negara.
“Acara seperti ini membangun jaringan antara pelaku budaya, saling mendukung, dan memperkuat sinergi untuk mendorong budaya Indonesia ke tingkat global,” tambahnya.
Namun, di balik ambisi besar untuk mempopulerkan budaya Indonesia, Fadli juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian budaya lokal yang terancam punah. Ia menekankan bahwa pendataan tradisi lokal yang semakin langka, seperti bahasa daerah dan praktik budaya, adalah langkah awal yang krusial. Sebagai contoh, ia menyoroti revitalisasi arsitektur tradisional rumah bambu Sunda yang hampir hilang.
“Ada rumah-rumah seperti tipe Jalopong, Sri Tewur, hingga Badakhlai yang sudah punah. Kami berupaya menghidupkan kembali arsitektur ini karena budaya kita selalu dekat dengan alam,” jelas Fadli.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mendorong pembentukan museum hidup dan taman budaya sebagai ruang ekspresi budaya daerah. Museum-museum tersebut tidak hanya untuk menyimpan benda, tetapi juga menjadi pusat edukasi, literasi, dan pelestarian budaya, di mana generasi muda bisa belajar, berinteraksi, dan merasa terhubung dengan identitas budaya mereka.
Dengan perpaduan antara pelestarian budaya lokal dan promosi budaya Indonesia di tingkat global, Fadli optimis bahwa Indonesia akan dapat menciptakan gelombang budaya yang mendunia.







