IndonesiaBuzz: Kesehatan – Penggunaan perangkat digital di Indonesia terus meningkat pesat, mulai dari ponsel pintar, komputer, hingga tablet. Kondisi ini memicu bertambahnya kasus kelelahan mata atau digital eye strain pada masyarakat. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2024, lebih dari 35 persen penduduk Indonesia mengalami gejala gangguan penglihatan akibat menatap layar terlalu lama.
Sindrom penglihatan komputer kini menjadi salah satu masalah kesehatan yang banyak dialami kelompok usia produktif. Keluhan seperti mata kering, pandangan kabur, hingga sakit kepala sering muncul setelah menatap layar berjam-jam. Jika tidak dicegah, gangguan ini berisiko memicu masalah penglihatan jangka panjang yang mengganggu produktivitas.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat menerapkan pola hidup sehat untuk melindungi mata. Salah satu anjuran yang disosialisasikan adalah aturan 20-20-20, yaitu setiap 20 menit menatap layar, mata diistirahatkan selama 20 detik dengan melihat objek berjarak sekitar 6 meter. Langkah sederhana ini terbukti membantu mengurangi ketegangan pada mata.
Selain itu, masyarakat disarankan mengatur pencahayaan ruangan dan menyesuaikan kecerahan layar agar tidak terlalu kontras, menggunakan kacamata pelindung sinar biru untuk mengurangi paparan radiasi layar, memperbanyak frekuensi berkedip dan minum air putih untuk menjaga kelembapan mata, serta melakukan pemeriksaan rutin minimal satu kali setahun.
Upaya edukasi juga digencarkan pada kalangan pelajar yang semakin banyak belajar menggunakan perangkat daring. Kebiasaan menjaga kesehatan mata sejak dini diharapkan dapat menekan angka gangguan penglihatan di masa depan. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, angka gangguan penglihatan akibat paparan layar diharapkan dapat terus menurun dan kesehatan mata masyarakat tetap terjaga seiring pesatnya perkembangan teknologi digital. (red)







