IndonesiaBuzz: Klaten, 4 Oktober 2025 – Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, kini tak sekadar dikenal sebagai “desa cikal bakal angkringan”. Kawasan ini menjelma menjadi destinasi wisata edukasi unik, tempat pengunjung belajar langsung meracik teh khas angkringan hingga membuka usaha warung angkringan dari nol.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ngerangan, Suwarna, menuturkan bahwa wisata edukasi ini banyak diminati berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga akademisi. Salah satunya datang dari program doktoral pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM).
“Kemarin dari UGM datang dua kali. Pertama 10 orang, kemudian tertarik lagi datang 35 orang untuk belajar edukasi teh angkringan,” ujar Suwarna kepada Kompas, pekan lalu.
Salah satu daya tarik utama wisata ini ialah pelatihan meracik teh ala angkringan, yang dikenal memiliki cita rasa khas dan tidak bisa dibuat sembarangan. Racikan teh di setiap daerah berbeda, disesuaikan dengan selera masyarakat setempat.
“Warga Ngerangan yang berjualan angkringan sudah menyebar di banyak daerah. Dari situ muncul variasi rasa teh khas tiap kota. Itulah yang kami ajarkan secara detail,” tutur Suwarna.
Selain pelatihan meracik teh, Pokdarwis juga membuka “Sekolah Angkringan”, program belajar membuka usaha angkringan selama empat hingga lima hari. Peserta tidak hanya belajar resep dan racikan, tetapi juga manajemen usaha, strategi lokasi, hingga mendapat perlengkapan jualan.
“Kalau ikut paket komplet, peserta dapat alat dan siap langsung jualan angkringan setelah pelatihan,” jelas Suwarna.
Program wisata edukasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat branding Desa Ngerangan sebagai asal mula budaya angkringan, sekaligus mendorong persebaran usaha rakyat ini ke seluruh Indonesia.
Asal-usul angkringan bermula pada tahun 1930-an di Dukuh Sawit, Desa Ngerangan. Seorang warga bernama Karso Dikromo atau Karso Djukut merantau ke Solo dan bekerja pada juragan terikan bernama Mbah Wono di Laweyan.
Setelah beberapa waktu berjualan makanan, Djukut menambahkan minuman teh dan jahe, membawa cerek serta makanan dalam tumbu di kepala. Karena tidak praktis, ia kemudian berinovasi membuat pikulan yang kelak menjadi ciri khas pedagang angkringan.
Inovasi ini berkembang berkat bantuan Wiryo Je, sesama warga Dukuh Sawit, yang meracik teh oplosan khas angkringan. Dari sinilah tradisi warung hik atau angkringan lahir dan menyebar ke berbagai daerah.
Pada era 1950-an hingga 1970-an, pedagang asal Ngerangan mulai menjajakan angkringan di Solo dan Yogyakarta. Awalnya menggunakan pikulan, kemudian beralih ke gerobak dorong, yang menjadi ikon hingga sekarang.
Kini, hampir di setiap kota di Pulau Jawa bahkan hingga luar Jawa, nama angkringan tetap identik dengan suasana hangat, murah, dan sederhana jejak yang berawal dari kreativitas warga Desa Ngerangan hampir seabad lalu.







