IndonesiaBuzz: Wonogir, 31 Oktober 2026 – Surutnya permukaan air Waduk Gajah Mungkur akibat musim kemarau membuka kembali lembaran sejarah transportasi di Kabupaten Wonogiri. Sejumlah bagian jalur kereta api peninggalan kolonial Belanda yang selama puluhan tahun terendam air kini kembali terlihat, menghadirkan jejak masa ketika kereta api menjadi penghubung penting antara Solo dan wilayah selatan Wonogiri.
Infrastruktur yang muncul dari balik genangan waduk tersebut bukan sekadar bangunan tua yang tersisa. Jejak rel dan sejumlah konstruksi pendukungnya menjadi pengingat bahwa sebelum kawasan itu berubah menjadi perairan Waduk Gajah Mungkur, wilayah tersebut pernah menjadi bagian dari jalur transportasi yang menopang mobilitas masyarakat sekaligus aktivitas perdagangan dan perkebunan.
Jalur kereta api itu dahulu membentang dari Stasiun Purwosari, Solo, melewati Wonogiri Kota dan Baturetno, hingga kawasan Kakap di Giriwoyo yang berbatasan dengan Pacitan, Jawa Timur.
Dibangun Sejak Era Kolonial, Kereta Angkut Hasil Perkebunan
Ketua Tim Wonogiri Heritage sekaligus dosen Sejarah Universitas Jambi, Dennys Pradita, menjelaskan bahwa gagasan pembangunan jalur kereta api tersebut telah muncul sejak 1899.
Pembangunannya melibatkan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) bersama Pura Mangkunegaran. Proyek tersebut tidak terlepas dari kepentingan pemerintah kolonial untuk membuka akses transportasi menuju wilayah Pacitan, sekaligus mendukung kepentingan ekonomi Mangkunegaran dalam mengangkut hasil perkebunan dari kawasan selatan Wonogiri.
Sejumlah komoditas yang diangkut melalui jalur tersebut antara lain kopi, tebu, dan batu gamping. Meski pada awalnya memiliki orientasi kuat terhadap pengangkutan barang, jalur kereta itu juga dimanfaatkan untuk melayani perjalanan penumpang.
Jalur Solo-Baturetno kemudian resmi beroperasi pada 27 Maret 1922. Kehadirannya membawa perubahan terhadap aktivitas ekonomi di sejumlah kawasan yang dilintasi, seperti Baturetno, Betal di Kecamatan Nguntoronadi, dan Somoulun.
Salah satu infrastruktur penting dalam jalur tersebut adalah Jembatan Somoulun. Jembatan itu dibangun dengan biaya sekitar 220.000 gulden, menunjukkan besarnya investasi infrastruktur transportasi pada masa kolonial.
Keberadaan jalur kereta api tersebut menjadikan wilayah selatan Wonogiri lebih terhubung dengan Solo. Distribusi hasil perkebunan menjadi lebih terbuka, sementara masyarakat memperoleh alternatif transportasi untuk melakukan perjalanan antarkawasan.
Pembangunan Waduk Gajah Mungkur Mengakhiri Sebagian Jalur Kereta
Sejarah jalur kereta api selatan Wonogiri mengalami perubahan besar ketika pembangunan Waduk Gajah Mungkur dilakukan pada masa pemerintahan Orde Baru.
Menurut Dennys Pradita, pembangunan waduk tidak hanya mengubah bentang geografis wilayah Wonogiri, tetapi juga mengakhiri sebagian perjalanan sejarah jalur kereta peninggalan kolonial tersebut.
Sejumlah kawasan yang sebelumnya dilintasi rel kereta api harus tergenang akibat pembangunan waduk. Jalur yang dahulu menghubungkan Solo dengan Baturetno dan kawasan selatan Wonogiri pun tidak lagi dapat beroperasi secara utuh.
Setelah perubahan tersebut, layanan kereta api hanya bertahan pada rute Purwosari-Wonogiri.
Dampaknya tidak sebatas pada hilangnya jalur transportasi kereta. Perubahan bentang wilayah juga memengaruhi akses masyarakat di kawasan selatan Wonogiri.
Sejumlah jalur penghubung, termasuk Baturetno-Eromoko dan Betal-Wuryantoro, turut terdampak genangan waduk. Akibatnya, akses menuju sejumlah kawasan menjadi bergantung pada kondisi permukaan air.
Perubahan tersebut memperlihatkan bagaimana pembangunan infrastruktur berskala besar dapat mengubah bukan hanya kondisi geografis, melainkan juga pola mobilitas dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat di wilayah terdampak.
Air Menyusut, Warisan Sejarah Kembali Terlihat
Kini, ketika permukaan air Waduk Gajah Mungkur mengalami penyusutan akibat musim kemarau, sebagian infrastruktur kereta api yang selama bertahun-tahun tertutup air kembali menampakkan wujudnya.
Kemunculan jejak jalur lama tersebut menjadi momentum untuk melihat kembali sejarah perkembangan transportasi dan perekonomian Wonogiri. Infrastruktur yang sebelumnya tersembunyi di dasar waduk itu menyimpan cerita tentang konektivitas wilayah, aktivitas perdagangan, serta kehidupan masyarakat sebelum kawasan tersebut berubah menjadi waduk.
Bagi sejarah lokal, jalur kereta api Solo-Baturetno bukan sekadar peninggalan fisik kolonial Belanda. Jalur tersebut merupakan bagian dari perjalanan panjang perkembangan wilayah Wonogiri, terutama dalam membangun hubungan ekonomi dan sosial dengan kawasan Solo maupun wilayah selatan hingga perbatasan Pacitan.
Surutnya Waduk Gajah Mungkur dengan demikian menghadirkan lebih dari sekadar pemandangan bangunan tua yang muncul dari balik air. Peristiwa ini membuka kembali ingatan kolektif tentang sebuah jalur transportasi yang pernah menjadi urat nadi mobilitas dan perekonomian masyarakat.
Jejak rel yang kini terlihat menjadi pengingat bahwa di balik hamparan Waduk Gajah Mungkur, tersimpan sejarah panjang tentang jalur kereta api yang pernah menghubungkan wilayah, menggerakkan ekonomi, dan menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Wonogiri. (@Yudi S/Koresponden Wonogiri).







