IndonesiaBuzz: Ngawi, 2 November 2026 – Pemerintah Kabupaten Ngawi melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mengantisipasi ancaman kekurangan air bersih saat musim kemarau 2027. Berbagai upaya disiapkan, mulai dari pembangunan sumur bor, penyediaan air minum gratis, pemasangan tandon air, hingga perluasan jaringan perpipaan ke sejumlah wilayah rawan kekeringan.
Untuk merealisasikan program tersebut, DPRKP Ngawi menyiapkan anggaran sekitar Rp 7 miliar pada 2027. Anggaran itu dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan air minum masyarakat sekaligus membangun dan mengembangkan sarana serta prasarana penyediaan air bersih.
Kepala DPRKP Ngawi Maftuh Affandi melalui Kepala Bidang Permukiman Pipit Dwi Herlina mengatakan, langkah antisipasi tersebut disusun dengan mempertimbangkan kondisi geografis sejumlah wilayah di Kabupaten Ngawi yang memiliki keterbatasan sumber air, terutama kawasan utara.
Hal itu disampaikan Pipit saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (2/11/2026). Menurutnya, karakteristik geografis dan kondisi sumber air di sejumlah desa menjadi tantangan tersendiri dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Pembangunan Sumur Bor Jadi Langkah Antisipasi Kekeringan
Sebagai bagian dari upaya memperkuat ketersediaan air, DPRKP Ngawi telah menyiapkan dua titik pengeboran sumur air minum pada 2026, masing-masing di Desa Gunungsari dan Desa Cantel.
Namun, pelaksanaan pengeboran di Desa Cantel menghadapi kendala karena potensi sumber air yang terbatas akibat kondisi musim. Meski demikian, pemerintah daerah tetap berupaya agar hasil pengeboran tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Untuk tahun ini ada dua titik lokasi pengeboran air minum, yaitu di Desa Gunungsari dan Desa Cantel. Di Cantel kemarin memang ada kendala karena potensi airnya agak sulit akibat kondisi musim. Namun, tetap kita upayakan agar air dari hasil pengeboran bisa dimanfaatkan, meskipun potensinya lebih sedikit,” ujar Pipit.
Sementara itu, pengeboran di Desa Gunungsari masih dalam tahap pengerjaan, termasuk pembangunan sejumlah sarana pendukung.
Pipit menjelaskan, persoalan kekeringan di Ngawi tidak semata-mata disebabkan terbatasnya sumber air. Kondisi geografis serta kualitas air yang belum memenuhi kebutuhan masyarakat juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Karakteristik tanah di sejumlah wilayah utara, misalnya, turut memengaruhi tingkat kesulitan dalam proses pengeboran sumur. Karena itu, penanganan kekeringan membutuhkan pendekatan yang disesuaikan dengan potensi dan kondisi masing masing wilayah.
Rp 4,5 Miliar Disiapkan untuk Program Air Minum Gratis
Selain pembangunan infrastruktur sumber air, DPRKP Ngawi juga menyiapkan program penyediaan air minum gratis bagi masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh air layak konsumsi.
Program tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sekaligus menjalankan misi Bupati Ngawi.
Pipit mengungkapkan, pihaknya telah melakukan kajian terhadap 16 desa yang menjadi sasaran program. Penyaluran air minum nantinya dilakukan secara berkala dengan memprioritaskan warga yang paling membutuhkan.
“Untuk sementara kita lakukan kajian di 16 desa. Pemberian air minum gratis ini dilakukan secara berkala dan diprioritaskan kepada masyarakat yang membutuhkan,” jelasnya.
Untuk mendukung pelaksanaan program tersebut pada 2027, DPRKP Ngawi mengalokasikan anggaran sekitar Rp 4,5 miliar.
Tidak hanya menyediakan air minum untuk konsumsi, pemerintah daerah juga menyiapkan solusi pemenuhan kebutuhan air bersih sehari-hari melalui pemasangan reservoir portabel atau tandon air di sejumlah desa rawan kekeringan.
Tandon tersebut nantinya akan diisi melalui distribusi air secara berkala. Dengan skema ini, masyarakat diharapkan tetap memiliki akses terhadap air bersih ketika sumber air setempat mengalami penurunan debit atau mengering saat musim kemarau.
Perluasan Jaringan PAMSIMAS Ditargetkan Rampung Sebelum Kemarau
Langkah berikutnya dilakukan melalui optimalisasi jaringan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) serta Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang telah tersedia di sejumlah wilayah.
DPRKP Ngawi berencana memperluas jaringan perpipaan agar sumber air yang masih memiliki potensi dapat dimanfaatkan untuk menjangkau masyarakat di desa maupun dusun yang belum terlayani.
Sejumlah wilayah yang menjadi perhatian di antaranya Desa Suruh dan Desa Kiyonten. Kedua desa tersebut memiliki sumber mata air yang berpotensi dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di beberapa dusun.
“Di beberapa desa seperti Suruh dan Kiyonten, terdapat sumber mata air yang bisa dilakukan perluasan jaringan atau dimanfaatkan untuk beberapa dusun di sana,” terang Pipit.
Untuk mendukung perluasan jaringan perpipaan dan pembangunan sarana pendukung tersebut, DPRKP Ngawi menyiapkan anggaran sekitar Rp 2,5 miliar pada 2027.
Pipit menegaskan, berbagai program penanganan kekeringan tersebut direncanakan mulai dilaksanakan pada awal 2027. Khusus kegiatan perluasan jaringan dan pemanfaatan sumber mata air, pelaksanaannya diharapkan dapat lebih cepat karena tidak membutuhkan proses perizinan sepanjang pembangunan sumur bor.
Pemerintah daerah menargetkan berbagai sarana penyediaan air bersih dapat dipersiapkan sebelum memasuki puncak musim kemarau. Pengalaman menghadapi persoalan kekeringan sepanjang 2026 menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat langkah antisipasi pada tahun berikutnya.
“Anggaran untuk program tersebut sejauh ini sudah tersedia. Kita antisipasi kondisi seperti tahun ini, sehingga sebelum memasuki musim kemarau, berbagai upaya sudah kita lakukan,” pungkasnya.
Melalui kombinasi pembangunan sumur bor, distribusi air minum gratis, pemasangan tandon, serta perluasan jaringan perpipaan, DPRKP Ngawi berharap persoalan keterbatasan air bersih di wilayah rawan kekeringan dapat ditangani secara lebih terencana.
Upaya tersebut sekaligus diharapkan menjadi bagian dari penguatan infrastruktur dasar daerah agar masyarakat memiliki akses air bersih yang lebih merata, memadai, dan berkelanjutan. (Esaputra /Koresponden Ngawi).





