IndonesiaBuzz: Surakarta, 24 Oktober 2026 – Harga emas dunia mengalami tekanan tajam pada perdagangan Jumat (23/10/2026), hingga menembus level di bawah US$ 4.000 per ons untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juli. Kenaikan harga energi, kekhawatiran inflasi, serta ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat (AS) menjadi faktor utama yang membebani pergerakan logam mulia tersebut.
Berdasarkan data perdagangan yang dilaporkan pada Sabtu (24/10/26), harga emas di pasar spot turun 0,6% menjadi US$ 3.998,49 per ons pada pukul 14.27 waktu setempat. Sepanjang pekan ini, harga emas telah terkoreksi sekitar 4%, mencatatkan penurunan mingguan terdalam sejak Juni.
Tekanan juga terlihat pada kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember yang ditutup melemah 1,3% ke level US$ 4.007,90 per ons.
Pelemahan tersebut terjadi di tengah perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Kenaikan harga energi memunculkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi akan bertahan lebih lama, sehingga ruang bagi bank sentral AS untuk menurunkan suku bunga menjadi semakin terbatas.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi emas, yang secara tradisional dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Ketika suku bunga diperkirakan bertahan tinggi, aset berbunga cenderung lebih menarik karena emas tidak memberikan imbal hasil berupa bunga.
Harga Energi Naik, Kekhawatiran Inflasi Tekan Emas
Salah satu faktor yang membebani harga emas adalah kenaikan harga minyak mentah Brent yang mencapai level tertinggi dalam lebih dari lima bulan. Pergerakan tersebut dipicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi setelah serangan Houthi di Arab Saudi.
Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan produksi, yang pada akhirnya dapat memperbesar tekanan inflasi. Jika kondisi tersebut berlangsung dalam jangka panjang, bank sentral berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menilai meningkatnya kekhawatiran inflasi menjadi salah satu faktor yang menekan pasar logam mulia.
“Meningkatnya kekhawatiran inflasi menunjukkan bahwa bank-bank sentral utama dunia tidak akan dapat melonggarkan kebijakan moneter secepat yang mereka inginkan. Semua faktor itu saat ini menekan pasar emas dan perak,” kata Wyckoff.
Selain tekanan dari kebijakan moneter, aksi jual saham teknologi juga memperburuk kondisi pasar. Indeks S&P 500 dan Nasdaq dilaporkan menyentuh level terendah dalam lima pekan pada Jumat setelah saham-saham terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mengalami tekanan jual tajam.
Menurut Wyckoff, kondisi tersebut memicu kebutuhan tambahan dana jaminan atau margin call bagi sebagian pedagang dan investor. Untuk memenuhi kewajiban tersebut, mereka dapat menjual aset lain, termasuk emas dan perak, sehingga menambah tekanan jual di pasar logam mulia.
Pasar Antisipasi Keputusan The Fed dan Data Inflasi AS
Pelaku pasar kini mencermati rapat kebijakan The Fed pada 27–28 Oktober 2026. Berdasarkan data CME FedWatch Tool yang dikutip dalam laporan tersebut, peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada rapat pekan depan mencapai 92%.
Sementara itu, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan mencapai 78%. Angka tersebut mencerminkan ekspektasi pasar berdasarkan instrumen derivatif suku bunga, bukan keputusan resmi bank sentral.
Ekspektasi kebijakan yang lebih ketat turut diperkuat oleh data inflasi konsumen dan produsen AS pada pekan sebelumnya yang dilaporkan lebih tinggi daripada perkiraan. Kondisi tersebut membuat investor semakin berhati-hati dalam memperkirakan waktu pelonggaran kebijakan moneter.
Perhatian berikutnya tertuju pada laporan Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang dijadwalkan terbit pada 29 Oktober. Indikator tersebut merupakan salah satu ukuran inflasi utama yang digunakan The Fed dalam mengevaluasi perkembangan harga dan menentukan arah kebijakan suku bunga.
Jika data inflasi kembali menunjukkan tekanan yang kuat, ekspektasi suku bunga tinggi berpotensi bertahan dan memberikan tekanan lanjutan terhadap emas. Sebaliknya, tanda-tanda perlambatan inflasi dapat mengubah kembali perkiraan pasar terhadap kebijakan moneter AS.
Dengan demikian, pergerakan harga emas dalam waktu dekat akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi data ekonomi, perkembangan harga energi, dan keputusan The Fed.
Permintaan Fisik Beragam, Perak dan Platinum Ikut Melemah
Di tengah penurunan harga global, permintaan emas fisik menunjukkan perkembangan yang berbeda di sejumlah negara konsumen utama.
Di India, pembelian emas meningkat sepanjang pekan ini. Harga yang lebih rendah selama festival Dussehra mendorong aktivitas transaksi dan meningkatkan premi emas. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penurunan harga dapat membuka peluang pembelian bagi konsumen yang memanfaatkan momentum harga lebih murah.
Sementara itu, permintaan emas fisik di China, salah satu konsumen emas terbesar dunia, relatif stabil. Namun, konsumen masih berhati-hati dalam mengeluarkan uang untuk pembelian perhiasan.
Tekanan tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak spot turun 1% menjadi US$ 53,97 per ons, sedangkan paladium melemah 0,5% ke US$ 1.048,31 per ons. Kedua logam tersebut dilaporkan menyentuh level terendah sejak November 2025 dan Juni 2025.
Harga platinum spot juga terkoreksi 0,9% menjadi US$ 1.555,84 per ons, level terendah sejak Juli.
Ketiga logam tersebut turut berada di jalur penurunan mingguan seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi yang membebani pasar logam mulia.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa pasar logam mulia sedang menghadapi tekanan dari sisi makroekonomi dan kondisi likuiditas investor. Ke depan, arah harga emas dan logam lainnya akan bergantung pada perkembangan inflasi, kebijakan bank sentral, serta keseimbangan antara permintaan investasi dan kebutuhan fisik.
Bagi investor, volatilitas tersebut menegaskan pentingnya mencermati perkembangan ekonomi global dan risiko pasar sebelum mengambil keputusan investasi. Penurunan harga tidak dengan sendirinya menjamin pemulihan dalam waktu dekat, terutama ketika ketidakpastian mengenai arah suku bunga masih tinggi. @yudi







