IndonesiaBuzz: Ngawi, 17 Oktober 2026 – Hamparan bunga eceng gondok bermekaran di Sungai Bengawan Solo, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Fenomena ini muncul saat debit air sungai menyusut akibat musim kemarau. Pemandangan tersebut pun menarik perhatian warga yang datang untuk berburu foto.
Hamparan bunga itu terlihat di bawah Jembatan Payak, Desa Kauman, Kecamatan Widodaren. Di lokasi tersebut, bunga eceng gondok membentang mengikuti aliran sungai hingga lebih dari satu kilometer.
Bunga berwarna ungu muda dengan semburat biru itu membuat pemandangan sungai terlihat berbeda. Selain menikmati keindahannya, pengunjung juga memanfaatkan lokasi tersebut untuk berswafoto.
Terlebih lagi, suasana semakin menarik saat sore hari. Cahaya matahari menjelang terbenam membuat hamparan bunga terlihat lebih indah. Karena itu, banyak warga memilih datang pada waktu tersebut untuk mengabadikan pemandangan.
Fenomena ini juga ramai di media sosial dalam sepekan terakhir. Akibatnya, pengunjung dari berbagai daerah berdatangan untuk melihat langsung hamparan bunga eceng gondok tersebut.
“Karena banyak tumbuh bunga eceng gondok. Bunga ini tumbuh saat musim kemarau saja. Setiap sore ramai, pengunjung datang dari mana-mana,” ujar Alya Syaifa Nur Hafizzah, salah seorang pengunjung.
Pengunjung lainnya, Eka Wulandari, mengatakan informasi yang beredar di media sosial membuat warga penasaran. Selain itu, kondisi sungai yang mengering membuat hamparan bunga terlihat jelas.
“Banyak yang berdatangan karena viral bunga itu. Sekarang musim kemarau, sungai mengering, akhirnya tertutup bunga ini,” tuturnya.
Sementara itu, Ayu Puspita, warga setempat, mengatakan hamparan eceng gondok mulai terlihat saat kemarau panjang. Seiring berkurangnya debit air, tanaman tersebut tumbuh dan berbunga hingga menutupi sebagian besar permukaan sungai.
“Awalnya kemarau panjang, kemudian eceng gondok ini tumbuh dan berbunga sampai merata menutupi sungai,” ungkapnya.
Di sekitar lokasi, pengunjung bisa berjalan di atas bebatuan yang muncul di dasar sungai. Namun, mereka tetap harus berhati-hati. Sebab, beberapa titik masih memiliki genangan air dengan kedalaman yang berpotensi membahayakan.
Selain menikmati pemandangan, sebagian warga juga mengambil bunga eceng gondok untuk dibawa pulang sebagai kenang-kenangan. Meski begitu, pengunjung perlu menjaga kebersihan dan tidak meninggalkan sampah di sekitar sungai.
Hamparan bunga tersebut diperkirakan tidak akan bertahan lama. Jika musim hujan tiba, debit air Bengawan Solo dapat kembali meningkat. Arus sungai pun berpotensi menghanyutkan tanaman yang kini menutupi permukaannya.
Fenomena ini menghadirkan pemandangan berbeda di Bengawan Solo saat kemarau. Meski terlihat indah, pertumbuhan eceng gondok yang menutupi permukaan sungai juga perlu diperhatikan. Karena itu, keindahan alam tersebut perlu dinikmati dengan tetap mengutamakan keselamatan dan menjaga lingkungan. @esaputra/Ngawi







