IndonesiaBuzz: Lumajang, 25 September 2026 – Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali mengalami erupsi pada Jumat (25/9/26) pagi. Dalam rentang waktu kurang dari satu jam, gunung api tertinggi di Pulau Jawa itu tercatat erupsi dua kali dengan tinggi kolom letusan mencapai 700 meter di atas puncak.
Erupsi pertama terjadi pada pukul 06.14 WIB. Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Mukdas Sofian, mengatakan kolom letusan teramati mencapai sekitar 700 meter di atas puncak atau 4.376 meter di atas permukaan laut (mdpl).
“Terjadi erupsi Gunung Semeru pukul 06.14 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 700 meter di atas puncak atau 4.376 meter di atas permukaan laut (mdpl),” kata Mukdas, Jumat (25/9/26).
Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan mengarah ke timur laut. Erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan durasi 138 detik.
Gunung Semeru kemudian kembali erupsi pada pukul 06.56 WIB. Tinggi kolom letusan kembali teramati sekitar 700 meter di atas puncak atau mencapai 4.376 mdpl.
“Kolom abu vulkanik Semeru teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah timur laut,” ujar Mukdas.
Erupsi kedua tercatat memiliki amplitudo maksimum 22 milimeter dengan durasi 125 detik.
Aktivitas vulkanik Semeru masih menunjukkan adanya erupsi dan kegempaan. Berdasarkan pengamatan selama enam jam, mulai pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, tercatat 27 kali gempa letusan atau erupsi.
Gempa tersebut memiliki amplitudo 15-22 milimeter dengan durasi 82-138 detik.
Selain gempa letusan, tercatat tiga kali gempa guguran dengan amplitudo 2-6 milimeter dan durasi 42-79 detik. Satu kali gempa hembusan juga tercatat dengan amplitudo 5 milimeter dan durasi 72 detik.
Secara visual, Gunung Semeru sempat terlihat jelas sebelum tertutup kabut 0-II. Asap kawah tidak teramati. Cuaca di sekitar gunung terpantau cerah hingga berawan dengan angin lemah ke arah selatan.
Saat ini, aktivitas vulkanik Gunung Semeru berada pada Level III atau Siaga.
Dengan status Siaga, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di kawasan yang masuk dalam zona rawan bencana, khususnya sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak yang menjadi pusat erupsi.
Masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Wilayah tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak.
“Di luar jarak tersebut, masyarakat juga tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak,” kata Mukdas.
Larangan aktivitas juga berlaku dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru. Kawasan tersebut rawan terhadap lontaran batu pijar.
Masyarakat diimbau tetap mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar yang dapat meluncur melalui aliran sungai maupun lembah yang berhulu di puncak Semeru.
“Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan,” ujar Mukdas.
Masyarakat yang berada di sekitar kawasan Gunung Semeru diminta mematuhi rekomendasi keselamatan dan mengikuti perkembangan aktivitas gunung api melalui informasi resmi dari petugas pengamatan. @yudi







