InonesiaBuz: Wonogiri, 21 September 2026 – Kekeringan di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, terus meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri mencatat wilayah yang terdampak kekurangan air bersih kini mencapai 14 kecamatan, bertambah dari sebelumnya 13 kecamatan.
Di tengah kondisi tersebut, BPBD telah menyalurkan sebanyak 4.230.000 liter air bersih kepada masyarakat di sejumlah wilayah terdampak. Air tersebut didistribusikan menggunakan 846 tangki.
Jumlah distribusi itu telah mencapai 80,96 persen dari target penyaluran sebanyak 1.045 tangki dengan total volume 5.225.000 liter air bersih.
Kepala BPBD Wonogiri Fuad Wahyu Pratama mengatakan kebutuhan air bersih berpotensi terus meningkat apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan.
“Dengan 5 juta liter itu prediksinya sampai dalam satu periode ini. Tapi karena dampak El Nino ini jumlahnya kita membutuhkan lebih banyak daripada itu,” kata Fuad, Senin (21/9/26).
Menurut Fuad, dengan perkembangan kondisi di lapangan, persediaan air yang sebelumnya diproyeksikan mencukupi satu periode penanganan diperkirakan dapat habis pada Oktober 2026.
Karena itu, BPBD mulai menyiapkan skema penambahan distribusi air bersih secara bertahap. Perhitungan kebutuhan akan dilakukan berdasarkan perkembangan kondisi di masing-masing wilayah terdampak.
“Sejauh ini pula, Pemerintah Kabupaten Wonogiri bersama BPBD juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk memenuhi kebutuhan kedaruratan selama musim kemarau ini,” ujarnya.
Perluasan wilayah kekeringan juga terjadi dengan masuknya Kecamatan Kismantoro dalam daftar daerah yang membutuhkan bantuan air bersih.
Fuad mengatakan sebelumnya BPBD mencatat 13 kecamatan terdampak kekurangan air. Kini jumlah tersebut bertambah menjadi 14 kecamatan.
“Di kecamatan tersebut, belum lama ini melaporkan ke kami ada satu desa yang kekeringan dan membutuhkan bantuan kedaruratan air bersih,” kata Fuad.
Berdasarkan catatan BPBD Wonogiri, distribusi air bersih telah dilakukan di sejumlah kecamatan dengan jumlah tangki yang berbeda-beda.
Eromoko menerima 175 tangki, Pracimantoro 51 tangki, Giritontro 172 tangki, Giriwoyo 200 tangki, Jatiroto 33 tangki, Tirtomoyo 24 tangki, Karangtengah 49 tangki, Nguntoronadi 50 tangki, Wonogiri 35 tangki, Manyaran 20 tangki, Baturetno 22 tangki, Paranggupito 9 tangki, dan Wuryantoro 6 tangki.
Sementara itu, kebutuhan distribusi tambahan masih dihitung BPBD dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi kekeringan di lapangan. Rencana penambahan bantuan akan disusun secara bertahap berdasarkan kebutuhan setiap dua pekan.
Untuk mendukung penanganan darurat, Pemerintah Kabupaten Wonogiri menyiapkan anggaran melalui Belanja Tidak Terduga (BTT) dalam APBD.
Fuad mengatakan pola penganggaran per dua pekan memungkinkan pemerintah melakukan evaluasi sekaligus menambah anggaran dan distribusi apabila kebutuhan air bersih masih berlanjut.
“Untuk tambahan itu nanti kita susun estimasi kebutuhan tambahan per dua minggu. Jadi mungkin dengan anggaran yang disiapkan dari APBD melalui Belanja Tidak Terduga, kita rencanakan untuk kebutuhan per dua minggu,” ujarnya.
Skema tersebut akan disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan masyarakat. Apabila setelah dua pekan pasokan air masih diperlukan, distribusi dan dukungan anggaran dapat kembali disiapkan.
Di sisi lain, BPBD belum melakukan pembangunan sumur baru sebagai solusi permanen untuk mengatasi kekeringan. Menurut Fuad, pembangunan sumur merupakan bagian dari penanganan jangka panjang yang menjadi kewenangan perangkat daerah terkait, termasuk Dinas Pekerjaan Umum.
“BPBD saat ini berfokus pada penanganan kedaruratan, termasuk memastikan suplai air bersih bagi masyarakat yang mengalami kekurangan air,” kata Fuad.
Dengan meluasnya wilayah terdampak dan potensi berlanjutnya musim kemarau, BPBD Wonogiri kini memprioritaskan pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat sembari menghitung kebutuhan distribusi tambahan untuk periode berikutnya. (@Yudi S/Koresponden Wonogiri).







