IndonesiaBuzz: Ngawi, 19 September 2026 – Di tengah kondisi kering dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih ditangani di lereng utara Gunung Lawu, warga bersama unsur TNI, Polri, pemerintah, dan relawan menggelar salat Istisqa di Desa Ngrayudan, Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.
Salat Istisqa digelar di halaman Kantor Desa Ngrayudan pada Jumat (18/9/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Sekitar 80 jamaah mengikuti salat dan doa bersama sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan sekaligus menghadapi kondisi kering yang meningkatkan risiko kebakaran hutan.
Kepala KUA Jogorogo, Hamam Nasir, bertindak sebagai imam. Sementara Masrukan, Penyuluh Agama, menjadi khatib.
Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur Forkopimcam Jogorogo dan Kendal, BPBD Kabupaten Ngawi, Perhutani BKPH Lawu Utara, personel Polsek dan Koramil Jogorogo serta Kendal, pemerintah desa, relawan, dan masyarakat.
Kapolres Ngawi AKBP Prayoga Angga Widyatama melalui Kapolsek Jogorogo Iptu Supriyanto mengatakan, salat Istisqa menjadi bentuk ikhtiar bersama di tengah kondisi kekeringan dan ancaman karhutla di kawasan Gunung Lawu.
“Salat Istisqa ini menjadi ikhtiar bersama untuk memohon kepada Allah SWT agar segera diturunkan hujan,” ujar Supriyanto.
Ia berharap hujan segera turun, khususnya di wilayah Kecamatan Jogorogo dan Kendal. Menurutnya, turunnya hujan diharapkan dapat mengurangi kondisi kering di kawasan hutan sekaligus menekan potensi meluasnya kebakaran.
“Semoga kondisi wilayah Gunung Lawu, khususnya Jogorogo dan Kendal, segera mendapat hujan sehingga potensi karhutla dapat ditekan,” katanya.
Karhutla di kawasan Gunung Lawu sebelumnya menjalar ke sejumlah wilayah hutan di Kabupaten Ngawi. Tim gabungan menemukan titik api di kawasan hutan lindung BKPH Lawu Utara, termasuk Petak 41 RPH Campurejo di Desa Karanggupito, Kecamatan Kendal.
Lokasi tersebut berbatasan dengan kawasan RPH Manyul, Desa Girimulyo, Kecamatan Jogorogo.
Sementara itu, titik api di Petak 42 E RPH Karangrejo yang sebelumnya dilaporkan padam masih terus dipantau. Pemantauan dilakukan untuk mengantisipasi munculnya bara atau titik api baru.
Pada Jumat (18/9/2026), tim gabungan masih disiagakan di kawasan Ngrayudan untuk melakukan penanganan dan pemantauan karhutla. Selain melakukan pemadaman, petugas membuat sekat bakar atau ilaran untuk menghambat kemungkinan penjalaran api.
Upaya tersebut dilakukan karena kondisi vegetasi yang kering berpotensi mempercepat pergerakan api, sementara medan kawasan hutan relatif sulit dijangkau.
Tim gabungan yang terdiri atas TNI, Polri, BPBD, Perhutani, relawan, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat terus melakukan pemantauan terhadap kawasan yang dinilai rawan.
Dengan kondisi tersebut, pelaksanaan salat Istisqa menjadi bagian dari ikhtiar masyarakat di tengah penanganan karhutla yang masih berlangsung. Sementara langkah teknis berupa pemadaman, pemantauan titik rawan, dan pembuatan sekat bakar tetap dilakukan untuk mencegah api kembali muncul maupun meluas di kawasan Gunung Lawu. (Esaputra /Koresponden Ngawi).







