IndonesiaBuzz: Surakarta, 19 Agustus 2026 – Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat memulai rangkaian Hajad Dalem Garebeg Mulud atau Sekaten Tahun Jimawal 1960/2026 Masehi. Pembukaan ditandai dengan penabuhan gamelan pusaka Kiai Guntur Madu di sisi selatan Masjid Agung Surakarta.
Tabuhan gamelan pusaka tersebut langsung menarik perhatian masyarakat. Ratusan warga memadati kawasan Masjid Agung Surakarta untuk menyaksikan sekaligus mengikuti tradisi yang menjadi bagian dari perayaan Sekaten.
Warga tidak hanya datang untuk mendengarkan gamelan. Sejumlah masyarakat terlihat mencari janur dan mengikuti tradisi nginang yang masih dilakukan secara turun-temurun.
Begitu pengrawit mulai memainkan Kiai Guntur Madu, warga langsung bergerak mendekati area gamelan. Kerumunan semakin ramai karena masyarakat ingin mengikuti rangkaian tradisi yang dipercaya memiliki makna tersendiri.
Suasana pembukaan Sekaten semakin semarak dengan kehadiran Pengageng Sasana Wilapa Pakoe Boewono XIV, GKR Panembahan Timoer Rumbay, Pengageng Keputren GKR Alit, dan GKR Sekar Kirono atau Gusti Ratih turut hadir di tengah masyarakat.
Jajaran Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kemudian membagikan ratusan bungkus kinang dan telur asin kepada warga yang hadir.
Pembagian kinang dan telur asin tersebut merupakan bagian dari paringan dalem dari SISKS Pakoe Boewono XIV kepada masyarakat dalam rangkaian Sekaten.
GKR Panembahan Timoer Rumbai Kusuma Dewayani menjelaskan kinang dan telur asin memiliki filosofi yang dikenal masyarakat. Keduanya dipercaya berkaitan dengan harapan panjang umur dan tetap awet.
“Kinang dan telur asin dipercaya bisa menjadikan awet,” tuturnya.
Dia menambahkan pemberian tersebut menjadi salah satu bentuk paringan dalem dari SISKS PB XIV kepada masyarakat yang mengikuti rangkaian Sekaten .
Selain pembagian kinang dan telur asin, tradisi nginang juga kembali terlihat saat gamelan pusaka mulai ditabuh. Sejumlah warga mengambil janur untuk digunakan dalam tradisi tersebut.
Sekaten bagi masyarakat bukan sekadar rangkaian penabuhan gamelan pusaka. Tradisi tahunan ini juga menjadi ruang bertemunya kebiasaan masyarakat dengan tradisi Kraton yang terus dipertahankan.
Suara gamelan Kiai Guntur Madu menjadi penanda dimulainya Sekaten. Setelah itu, masyarakat turut menghidupkan suasana melalui tradisi nginang, mengambil janur, serta mengikuti berbagai kegiatan yang berlangsung di sekitar Masjid Agung Surakarta.
Tradisi tersebut menunjukkan Sekaten masih memiliki tempat di tengah masyarakat. Setiap tahun, warga kembali datang dan menjalankan kebiasaan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Dengan ditabuhnya Kiai Guntur Madu, rangkaian Sekaten Tahun Jimawal 1960/2026 Masehi resmi dimulai di lingkungan Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.@eko-m







